Latest Entries »

ABSTRAK

Keterbatasan sumber pembiayaan pendidikan termasuk salah satu persoalan pelik yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia untuk memenuhi tuntutan perkembangan zaman. Meskipun alokasi anggaran pendidikan masih terbilang kecil, baik prosentase maupun angka absolut terhadap total anggaran nasional, namun besaran anggaran pendidikan tampak meningkat dari tahun ke tahun.

Kelangkaan dana untuk pembiayaan pendidikan ternyata dapat ditanggulangi oleh dukungan swasta dan masyarakat dengan menyediakan kesempatan berbagai jenjang pendidikan. Penyelenggaraan pendidikan oleh pihak swasta dimungkinkan tumbuh dengan memanfaatkan permintaan potensial (potential demand) yang tidak seluruhnya dapat diakomodasi oleh lembaga-lembaga yang disediakan pihak pemerintah.

Dengan mengacu kepada teori ekonomi lebih khususnya analisis biaya dan manfaat (cost and benefit analysis) serta hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli, maka investasi pendidikan adalah suatu investasi modal dan phisik yang mempunyai nilai balik dalam jangka panjang. Oleh sebab itu, pembangunan sumber daya manusia yang disebut sebagai investasi pendidikan merupakan salah satu sektor yang sangat penting dalam rangka pembangunan nasional.

-o-

1. PENDAHULUAN
Gelombang reformasi yang terjadi selama ini dirasakan belum menyentuh sektor pendidikan secara langsung, banyak pendapat menyatakan dalam sistuasi yang semakin memprihatikan telah membuat dunia pendidikan semakin terpuruk. Padahal dalam kondisi apapun dunia pendidikan tidak boleh dikesampingkan, mengingat fungsi dan peranannya untuk membangun bangsa. Dilain pihak, keadaan perekonomian negara yang disebut krisis, maka erat sekali kaitannya dengan masalah biaya untuk pendidikan.
Biaya pendidikan adalah masalah yang sangat kruisal dan penting bagi perencana pendidikan dan pembuat keputusan. Sebab, ada beberapa perbedaan definisi dan pengukuran biaya pendidikan, jadi sangatlah penting untuk menganalisis perbedaan antara konsep biaya pendidikan. Dalam arti, biaya secara ekonomi, akuntansi, pembuat keputusan, dan pendidik atau orang tua tidak mungkin menggunakan istilah yang sama.
Dewasa ini besarnya anggaran pendidikan menjadi salah satu sorotan utama dari berbagai kalangan, baik media masa maupun kalangan masyarakat luas. Di antaranya dipersoalkan apakah pemerintah benar-benar menempatkan investasi Sumber Daya Manusia pada prioritas teratas sebagaimana yang diamanatkan GBHN 1998. Namun sebaliknya tidak jarang yang mengkhawatirkan ekses yang tidak diinginkan, terutama dilihat dari efisiensi penggunaannya. Sebab beberapa pihak juga menekankan bahwa anggaran pendidikan bukan merupakan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pembangunan kualitas SDM.
Tulisan ini berusaha menjelaskan perbedaan-perbedaan tersebut, dimana biaya pendidikan menurut definisi dan pengukuran, serta gambaran berbagai cara menganalisis biaya pendidikan dalam hubungannya antara masukan (input) dan keluaran (output). Serta bukti mengenai tingkat pengembalian investasi (rate of returns) bidang pendidikan di Indonesia, lebih-lebih kalau dikaitkan dengan keadaan perekonomian yang sedang berkembang saat ini baik secara regional maupun global. Sudah banyak penelitian telah dilakukan untuk membahas masalah atau hubungan antara ekonomi dan pendidikan, namun demikian masih dirasa perlu untuk sedikit memberikan kontribusi analisis sesuai dengan pengetahuan penulis.

2. BIAYA UANG DAN BIAYA KESEMPATAN (OPPORTUNITY)
Biaya pendidikan dapat diukur dengan uang atau sumber daya (input) yang digunakan dalam proses penyelengaraan pendidikan seperti pendidik, siswa, staf pegawai, buku-buku, material, peralatan, dan gedung. Semua sumber daya ini mempunyai penggunaan alternatif. Jika tidak digunakan untuk tujuan pendidikan, maka dapat dialihkan ke beberapa kegiatan lainnya. Dalam analisis ekonomi nilai sumberdaya diukur dari kesempatan (opportunity) alternatif yang dikorbankan ketika sumberdaya tersebut dialokasikan dalam pengeluaran. Dengan sumberdaya yang sangat terbatas, mengakibatkan kepada pilihan kesempatan alternatif (para ahli ekonomi menyebut sebagai opportunity cost). Klasifikasi biaya secara garis besar terbagi menjadi biaya uang (money cost) dan biaya kesempatan (opportunity cost).
Biaya uang dari suatu kegiatan ekonomi adalah biaya yang riil dikeluarkan untuk penyelenggaraan pendidikan seperti gaji tenaga kependidikan, biaya bahan, dan peralatan serta biaya gedung. Sedangkan biaya kesempatan adalah biaya uang yang hilang karena sumber daya tersebut dialokasikan untuk penyelenggaraan pendidikan. Hal ini berarti bahwa biaya uang mempunyai penggunaan alternatif bidang lain di luar pendidikan, sehingga nilai yang hilang sebagai akibat melakukan investasi di bidang pendidikan disebut sebagai biaya kesempatan.
Berdasarkan penjelasan di atas, secara konsep biaya kesempatan (opportunity cost) adalah lebih luas dari pada konsep biaya uang atau pengeluaran. Di dalam bahasa sehari-hari, terminologi biaya biasanya digunakan atau merujuk kepada uang, akan tetapi terminologi biaya kesempatan (opportunity cost) tidak hanya menunjukkan kepada sumberdaya nyata (riel) yang mana ditunjukkan oleh adanya pengeluaran uang. Sumberdaya tidak hanya sesuatu yang dapat dibeli atau diukur dengan uang, namun sumberdaya juga termasuk sesuatu barang yang tidak dibeli dan dijual. Sebagai contoh, nilai waktu guru mengajar dapat diukur secara finansial, meskipun secara umum mereka sudah digaji, namun waktu untuk siswa atau sukarelawan yang tidak digaji juga harus dimasukkan dalam nilai sumberdaya dan pengukuran. Meskipun mereka tidak digaji, waktu yang mereka gunakan tersebut mempunyai penggunanan alternatif, di lain pihak hal itu mempunyai suatu nilai ekonomi dan sebuah biaya opportunity, walaupun tidak menggambarkan dalam bentuk pengeluaran.
Klasifikasi biaya yang lain adalah biaya langsung oleh murid, biaya oleh masyarakat, dan biaya kesempatan. Biaya langsung murid adalah biaya riil yang dikeluarakan oleh murid untuk kegiatan proses belajar-mengajar. Biaya langsung oleh masyarakat adalah biaya yang langsung dikeluarkan oleh masyarakat sebagai akibat dari kegiatan pendidikan. Biaya kesempatan adalah biaya yang hilang aebagai akibat dari tenaga kerja yang ikut dalam kegiatan pendidikan.

3. MODAL DAN BIAYA LANCAR
Selain klasifikasi tersebut di atas, biaya juga bisa dilihat dari biaya lancar (recurrent cost) dan biaya modal (capital cost). Biaya lancar adalah biaya yang dikeluarkan untuk jangka waktu pendek dan relatif sering kali bisa diperbaharui atau habis pakai (perishable cost). Biaya kapital adalah biaya investasi yang dikeluarkan untuk jangka waktu yang relatif panjang dan tidak habis pakai (durable cost) seperti biaya investasi gedung dan peralatan.
Pembedaan biaya yang lain adalah biaya pribadi (private cost) dan biaya sosial (social cost). Biaya pribadi adalah biaya yang dikeluarkan oleh orang tua murid, sedangkan biaya sosial adalah biaya yang ditanggung oleh pemerintah dan masyarakat. Umumnya biaya pribadi berupa biaya Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan (SPP), iuran BP3, dan biaya yang lainnya termasuk earning for gone. Biaya sosial adalah biaya gedung, gaji tenaga kependidikan, dan tenaga nonkependidikan, biaya peralatan termasuk buku paket dan earning for gone.
Earning for gone dalam biaya pribadi adalah pendapatan yang hilang setelah dikurangi pajak (take home pay) yang seharusnya diterima oleh siswa apabila siswa tersebut bekerja, sedangkan earning for gone dalam biaya sosial adalah penghasilan sebelum pajak atau nilai output yang tidak jadi diproduksi karena siswa tersebut mengikuti kegiatan pendidikan (output for gone).

4. BIAYA RATA-RATA DAN BIAYA MARGINAL
Analisis biaya erat kaitannya dengan total biaya (total cost) dari pendidikan atau unit cost, yang diukur dari satuan pendidikan/siswa. Ada dua perbedaan pengukuran unit cost. Pertama, total pengeluaran atau total cost adalah terdiri dari total jumlah murid di dalam sekolah atau tingkat pendidikan yang memberikan rata-rata biaya per murid. Kedua, total pengeluaran terdiri dari jumlah lulusan yang memberikan biaya rata-rata per lulusan. Kedua pengukuran unit cost ini, serta contoh lainnya termasuk biaya rata-rata per murid-jam atau suatu periode waktu.
Hubungan antara biaya rata-rata dan biaya marginal tergantung dari institusi yang tergantung pada bentuk fungsi biaya yang mana hubungannya antara biaya dan jumlah institusi. Biaya total akan bertambah jika jumlah murid yang terdaftar dalam sekolah atau institusi lainnya bertambah pula, akan tetapi biaya rata-rata dan biaya marginal mungkin dapat naik, turun atau konstan. Ada tiga kemungkinan yang merubah biaya rata-rata dan biaya marginal sebagai hasil dari kenaikan enrollment yaitu:
a. Skala pengembalian konstan (constan returns to scale), di mana biaya rata-rata dan biaya marginal adalah sama besarnya.
b. Skala pengembalian ekonomis (economies of scale), di mana biaya rata-rata semakin kecil sehubungan dengan jumlah murid/unit yang semakin bertambah, karena biaya marginal lebih rendah dari biaya rata-rata.
c. Skala pengembalian tidak ekonomis (decreasing returns to scale), di mana biaya marginal lebih tinggi dari biaya rata-rata, karena biaya rata-rata semakin bertambah sesuai dengan pertambahan unit/murid.

Penggunaan yang sesuai dari konsep biaya memerlukan pemahaman tentang hubungan antara biaya dan output atau fungsi biaya. Dua fungsi biaya dasar dipergunakan mengambil keputusan manajerial adalah fungsi biaya jangka pendek dan fungsi biaya jangka panjang. Biaya yang tidak bervariasi dalam kaitannya dengan output disebut biaya tetap. Sedangkan biaya variabel adalah biaya yang bervariasi dengan perubahan dalam output.
Kurva biaya total jangka pendek dibentuk untuk mencerminkan kombinasi masukkan optimal (atau biaya terendah). Untuk memproduksi output tertentu. Untuk sebuah institusi/sekolah yang ada kurva biaya jangka pendek mengilustrasikan biaya minimum yang diperlukan untuk memproduksi di berbagai tingkatan output. Baik biaya tetap maupun biaya variabel mencerminkan biaya jangka pendek suatu institusi/sekolah. Biaya total setiap tingkatan output adalah jumlah biaya tetap total (konstan) dan biaya variabel total. Dengan menggunakan TC untuk menwakili biaya total, TFC untuk biaya tetap total dan TVC untuk biaya variabel total dan Q untuk jumlah output yang diproduksi, berbagai biaya unit dapat dihitung (Dominick Salvatore, 1996, hal. 275-276) sebagai berikut:
Biaya total = TC = TFC + TVC
Biaya tetap rata-rata = AFC = TFC/Q
Biaya variabel rata-rata = AVC = TVC/Q
Biaya total rata-rata = ATC = AFC+AVC = TC/Q
Biaya marginal = MC = (TC/(Q = dTC/dQ

Tabel-1
Hipotesis Fungsi Biaya, Hubungan antara Total, Rata-rata, dan Biaya Marginal

Jumlah siswa (Q)

Biaya Total (TC)

Biaya Rata-rata

(AC)

Biaya Marginal

(MC)

0

0

0

0

1

100

100

100

2

140

70

40

3

180

60

40

4

220

55

40

5

260

52

40

6

312

52

52

7

364

52

52

8

440

55

76

9

540

60

100

10

650

65

110

Jumlah siswa (Q) Biaya Total (TC) Biaya Rata-rata
(AC) Biaya Marginal
(MC)
0 0 0 0
1 100 100 100
2 140 70 40
3 180 60 40
4 220 55 40
5 260 52 40
6 312 52 52
7 364 52 52
8 440 55 76
9 540 60 100
10 650 65 110
(Sumber: data hipotesis)

Gambar-1

Tabel 1 dan gambar 1, menggambarkan hubungan biaya rata-rata dan biaya marginal yang dapat diklasifikasikan dalam tiga kondisi skala ekonomi, tingkat pengembalian konstan, tingkat pengembalian menurun, dan tingkat pengembalian naik. Pada saat jumlah siswa masih di bawah enam orang/unit, kurva biaya marginal berada di bawah kurva biaya rata-rata yang artinya ada “economies of scale” dimana biaya rata-rata semakin menurun. Ketika jumlah siswa mencapai enam dan tujuh, biaya rata-rata dan biaya marginal adalah sama atau disebiut sebagai tingkat pengembalian konstan (constant returns of scale). Sedangkan pada saat jumlah siswa lebih dari tujuh orang/unit, maka terjadi tingkat pengembalian menurun (decreasing returns of scale), sebab biaya marginalnya lebih tinggi daripada biaya rata-rata, dengan disertai peningkatan jumlah siswa yang semakin meningkat.
Selain biaya yang telah diuraikan seperti tersebut di atas, juga akan diuraikan tentang konsep manfaat pendidikan. Manfaat pendidikan dapat dilihat sebagai peningkatan nilai tambah (value added) yang diperoleh seseorang karena telah mengikuti suatu proses pendidikan tertentu.
Nilai tambah ini secara umum merupakan peningkatan derajat, harkat dan martabat seseorang karena mengikuti pendidikan. Secara lebih khusus dapat diartikan sebagai peningkatan kemampuan daya pikir (cognitive), perilaku (affective) dan ketrampilan (psycomotoric). Manfaat pendidikan dapat dibedakan menjadi manfaat untuk diri sendiri (private benefit), juga manfaat untuk masyarakat secara umum baik langsung maupun tidak langsung (social benefit). Secara konseptual bahwa masyarakat dengan sebagian besar berpendidikan tinggi, akan cenderung lebih responsif terhadap sesuatu hal jika dibandingkan dengan masyarakat yang berpendidikan relatif rendah, namun paling tidak manfaat pendidikan relatif bisa didekati seperti manfaat ekonomi.

5. PENDIDIKAN SEBAGAI INVESTASI
Investasi secara umum dimaksudkan untuk meningkatkan nilai ekonomis di masa mendatang dari barang atau jasa yang diinvestasikan, melalui berbagai bentuk upaya dan pengorbanan yang dilaksanakan pada masa sekarang. Pemerintah berupaya meningkatkan mutu pendidikan agar kelak akan diperoleh Sumber Daya Manusia yang mampu menguasai keahlian dan ketrampilan, bekerja secara profesional, serta dapat menghasilkan karya yang bermutu, sehingga SDM dapat memberikan peranan dalam pembangunan.
Selain pemerintah, masyarakat secara umum juga berkepentingan melakukan investasi pendidikan karena dengan pendidikan, masyarakat akan makin tertata sehingga ketertiban, keamanan, dan kesejahteraan masyarakat akan terwujud. Bagi keluarga, pendidikan anak-anak juga dirasakan penting untuk menjamin adanya peningkatan kehidupan bagi keluarga dan terutama bagi anak-anak sendiri di masa depan.
Pada umumnya, investasi keluarga, masyarakat (misalnya swasta) dan pemerintah dalam bidang pendidikan bersifat saling melengkapi. Besarnya Kebutuhan suatu negara untuk investasi pendidikan juga sangat besar sehingga wajar jika investasi pendidikan tersebut ditanggung bersama. Dalam penjelasan berikut akan dibahas masing-masing investasi seperti tersebut di atas, namun karena keterbatasan data maka pembahasan besarnya investasi, khususnya yang telah dilakukan oleh swasta dan rumah tangga tidak digambarkan secara rinci. Berikut ini ditampilkan perbandingan investasi pendidikan yang telah dilakukan oleh pemerintah.

5.1. Investasi Pemerintah
Investasi pendidikan oleh pemerintah mencakup pembangunan dan pemeliharaan mencakup pembangunan dan pemeliharaan gedung-gedung sekolah, penyediaan peralatan sekolah, pembayaran gaji guru, anggaran untuk meningkatkan kualitas guru, dan lain-lain. Sementara ini program-program pemerintah dalam pembangunan sektor pendidikan baru dapat dipandang sebagai sebagai fungsi pemerintah untuk menyediakan sarana pelayanan unum yang cenderung tidak profit center seperi halnya investasi produktif. Dengan demikian adalah wajar jika sampai kini anggaran pemerintah untuk pendidikan masih relatif rendah dibandingkan dengan anggaran pendidikan di negara-negara tetangga (lihat tabel-2).
Tabel-2
Anggaran Pendidikan terhadap APBN-PDB Beberapa Negara, 1992
No Negara %Anggaran pendidikan tehadap
PDB APBN
1 Malaysia 5.3 16.0
2 Singapura 3.4 21.6
3 Taiwan 4.8 18.0
4 Korea Selatan 3.3 20.5
5 Thailand 4.3 19.4
6 Indonesia 2.7 *) 13.6 **)
Sumber: IMF International and Government Statistics 1992.

*) Persentase biaya pendidikan terhadap PDB adalah sebesar 4,2% jika biaya pendidikan tersebut memperhitungkan sumber-sumber biaya lainnya selain dari sumber anggaran pemerintah (lihat Bappenas/Hickling, 1997).
**) Sumber dari studi Bappenas/Hickling, 1997).

Investasi pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah pada umumnya diarahkan untuk mendukung kebijakan perluasan dan pemerataan kesempatan belajar, serta peningkatan mutu dan relevansi pendidikan. Pembiayaan pendidikan di Indonesia sebagian besar didukung melalui anggaran tahunan yang disalurkan ke Departemen Pendidikan Nasional, baik dalam bentuk anggaran rutin maupun pembangunan. Dalam hal penyelenggaraan pendidikan persoalannya antara lain adalah bagaimana skala penyelenggaraan tersebut dapat berlangsung secara optimal dengan tingkat kesangkilan yang tinggi. Kalau kesangkilan ekonomi yang ditekankan, maka konsep biaya rata-rata (average cost) sangat penting untuk ditelaah lebih lanjut. Dalam jangka panjang diharapkan biaya rata-rata dapat mencapai titik minimum pada skala operasi (jumlah siswa) tertentu dengan standar mutu tertentu pula.
Biaya rata-rata atas dasar anggaran pemerintah untuk mendidik seorang peserta didik dapat dihitung dari jumlah anggaran, berapa porsi untuk masing-masing jenjang pendidikan, dan jumlah peserta didik pada masing-masing jenjang pendidikan. Dengan mengasumsikan 53% dari total anggaran pendidikan dialokasikan untuk pendidikan dasar dan menengah, serta sekitar 21% untuk pendidikan tinggi, maka biaya tahunan untuk mendidik seorang peserta didik pada tingkat pendidikan dasar dan menengah mencapai Rp. 137.000 per tahun, dan biaya rata-rata untuk mendidik seorang mahasiswa mencapai Rp. 2.397.435 per tahun.
Penelitian tentang fungsi biaya rata-rata yang dilakukan oleh Robertson (1996), menggunakan regresi atas data biaya rata-rata per peserta didik pada tingkat (jumlah) murid tertentu di Jawa Timur serta dummy variable untuk membedakan daerah perkotaan dan pedesaan, atau kabupaten dan kotamadya, sebab secara umum biaya pendidikan di daerah pedesaan lebih rendah daripada daerah perkotaan. Hasil fungsi biaya rata-rata tersebut adalah sebagai berikut:
AC = 13.4 – 0.820Q + 0.051Q2 + Dummy (R2 = 0.63)
Dimana: AC = average cost (biaya rata-rata)
Q = jumlah siswa
Dummy = 1 Kotamadya, 0 Kabupaten

Fungsi kwadrat adalah menunjukkan kurva yang berbentuk U (U shaped) dengan kemungkinan minimisasi biaya rata-rata pendidikan.
Selain biaya rata-rata, indikator lain yang penting untuk ditelaah adalah proporsi anggaran pemerintah bagi sektor pendidikan terhadap seluruh APBN serta proporsi anggaran pendidikan terhadap PDB. Makin besar proporsi PDB untuk pendidikan (dengan asumsi bahwa alokasinya efisien dan efektif) makin besar pula kemungkinannya dalam upaya mendukung peningkatan mutu dan relevansi pendidikan.
Pertanyaan lebih lanjut adalah berapakah proporsi atau angka yang ideal, sampai saat ini belum ada suatu standar yang mutlak. Dengan kata lain masih diperlukan suatu studi lebih lanjut, misalnya, dengan melakukan perbandingan secara regional di Asia saja (lihat tabel-1). Sebagai patokan yang sangat sederhana, barangkali angka 10-20% dari PDB sementara ini dapat dianggap merupakan angka yang cukup memadai sebagai besaran anggaran pemerintah dalam bidang pendidikan.

5.2. Investasi Swasta
Investasi pihak swasta yang dimaksudkan di sini adalah lembaga-lembaga pendidikan swasta seperti yang bernaung di bawah suatu yayasan (foundation). Program pemerintah dalam membangun sektor pendidikan (khususnya sekolah dasar) secara besar-besaran sejak Repelita I telah meningkatkan secara signifikan permintaan terhadap jasa pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi yang mungkin disebabkan oleh meningkatnya pendapatan perkapita masyarakat, membaiknya infrastruktur umum serta kesadaran yang semakin tinggi terhadap pendidikan dan juga berkembangnya faktor alturisme yang ditunjukkan dengan sikap setiap anggota masyarakat yang cenderung melihat orang lain dalam melakukan hal yang sama. Meningkatnya permintaan terhadap pendidikan ini dapat ditunjukkan oleh, baik angka partisiapsi (kasar/murni) maupun jumlah murid.
Investasi sektor swasta tersebut dapat dipandang sebagai akibat keterbatasan bangku sekolah yang dapat disediakan oleh pemerintah untuk mengakomodasikan seluruh peserta didik pada berbagai jenjang dan jenis pendidikan. Persediaan (supply) jasa pendidikan dapat diukur berdasarkan jumlah bangku sekolah yang ada. Karena peranan pemerintah pada jenjang pendidikan menengah atas dan tinggi masih terbatas, sementara permintaan terhadap jasa pendidikan kedua jenjang tersebut sangat besar, maka hal ini memungkinkan tumbuhnya penyelenggaraan pendidikan pihak swasta dengan memanfaatkan permintaan potensial (potential demand) yang tidak tercakup oleh sekolah atau lembaga pendidikan yang disediakan oleh pemerintah.

5.3. Investasi Rumah Tangga
Investasi yang dilakukan oleh anggota masyarakat atau rumah tangga pada umumnya berasal dari orang tua peserta didik. Hanya saja berapa porsi pendapatan masyarakat yang dialokasikan untuk biaya pendidikan yang mencakup uang SPP, peralatan dan alat tulis, biaya transportasi, biaya pemondokan, dan lain-lain tentu saja bervariasi dari suatu kelompok pendapatan masyarakat ke kelompok pendapatan yang lain, serta dari daerah yang satu ke daerah yang lainnya.
Pola investasi pendidikan dari kelompok berpendapatan rendah atau mereka yang berada di bawah garis kemiskinan tentu sangat berbeda dengan kelompok berpendapatan menengah dan tinggi. Investasi di sini terutama berupa pengeluaran biaya langsung (direct cost) untuk komponen komponen biaya seperti disebutkan di depan. Selain bentuk biaya langsung ini, ada biaya tidak langsung berupa income forgone yaitu berupa kesempatan yang hilang untuk memperoleh pendapatan karena waktu dan sumber dana dipergunakan untuk memperoleh pendidikan. Pola biaya langsung pendidikan yang dikeluarkan oleh rumah-rumah tangga dapat disimak pada tabel-3 berikut ini.
Tabel-3
Pengeluaran Biaya Pendidikan Keseluruhan oleh Rumah Tangga di Indonesia, 1992
No Komponen Biaya Pendidikan Rp. (x 1000) %
1 Uang Pendaftaran 584.320 6.31
2 Iuran-iuran 2.294.509 24.77
3 SPP 1.758.166 18.98
4 Evaluasi Belajar 318.287 3.44
5 Seragam Sekolah 1.196437 12.91
6 Seragam Olah Raga 262.924 2.84
7 Buku Alat Tulis 1.145.023 12.36
8 Peralatan lain-lain 22.915 0.25
9 Trasportasi 1.041.083 11.24
10 Uang Saku 2.268.647 24.49
11 Ekstrakurikuler 86.208 0.93
12 Lainnya 44.631 0.48
Jumlah 9.264.939 100
Jumlah Rumah Tangga (Sample) 80.155
Rata-rata per rumah tangga 115.587
Sumber: Depdikbud dan Roberston, Mathew (1996); data diolah

Dengan berpatokan pada besarnya biaya rata-rata per rumah tangga, biaya pendidikan aggregatif yang dikeluarkan oleh rumah-rumah tangga seluruhnya mencapai Rp. 4.4 triliun (1992). Dan diproyeksikan menjadi sekitar Rp. 8.5 triliun pada tahun 1999. Angka ini sebenarnya tidak jauh berbeda dari anggaran pemerintah untuk sektor pendidikan yang disalurkan melalui Departemen Pendidikan Nasional untuk tahun anggaran yang berjalan.

6. KESIMPULAN
Sumber pertumbuhan ekonomi bidang industri di Indonesia, mecakup kontribusi seluruh investasi termasuk nilai investasi bidang pendidikan sebagai bagian PDB terhadap pertumbuhan produktivitas dilihat dari sisi suplai, serta kontribusi yang dibuat oleh perubahan struktur. Jenis kontribusi yang pertama memberi penjelasan, kurang lebih 75% dari pertumbuhan perkapita tergantung pada nilai investasi pendidikan.
Pihak, pemerintah masih harus meningkatkan biaya anggaran untuk pengeluaran pendidikan secara terus-menerus. Artinya anggaran untuk membangun dan mengembangkan kegiatan pengembangan sumber daya manusia perlu ditingkatkan secara riel, misalnya tidak hanya seperti; pembangunan fasilitas sarana dan prasarana kegiatan proses belajar dan mengajar untuk meningkatkan daya tampung serta subsidi uang sekolah (SPP) saja. Sebab, beban yang paling besar bagi orang tua siswa khususnya daerah pedesaan justru pada pelaksanaan proses kegiatan belajar seperti; iuran-iuran, uang saku, seragam sekolah, pembelian buku-buku, transportasi, dan akomodasi.
Pemerintah masih terus diharapkan dapat meningkatkan pelaksanaan program Wajib Belajar pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Walaupun konsekuensinya, pemerintah menanggung beban yang semakin berat, dalam arti beban biaya pengeluaran pendidikan untuk kegiatan proses belajar mengajar. Sebab dengan adanya peningkatan PDB nasional dan pendapatan perkapita penduduk yang semakin tinggi, maka pemerintah secara bertahap akan dapat meningkatkan anggaran untuk pengeluaran pendidikan sebagai upaya implementasi pembangunan nasional di bidang SDM.
Pelaksanaan strategi pokok pembangunan pendidikan melalui pemerataan memperoleh kesempatan belajar di tingkat yang lebih tinggi diperluas. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah mekanisme distribusi perolehannya harus diperuntukkan kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Keluaran pendidikan yang makin tinggi, diasumsikan seseorang akan mempunyai penghasilan lebih besar daripada yang tidak menikmati pendidikan/berpendidikan rendah, sehingga pada gilirannya secara beriringan dapat meningkatkan pendapatannya.
-o-

DAFTAR BACAAN

Ace Suryadi, (1997), Pembiayaan dan Investasi Sumber Daya Manusia, Prisma No. 2 Februari 1997, LP3ES, Jakarta, halaman 63-74.
Dominick Salvatore, (1996), Managerial Economics in a Global Economy, McGraw-Hill, USA.
George Psacharopoulos, (Ed), (1987), Economics of Educations Research and Studies, Pergamon Press, Headington Hill Hall, Oxford OX3 0BW, England.
Matthew Robertson, (1996), The Education Finance Study, Pusat Informatik Untuk Pengelolaan Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.
Subroto, G, (1997), Jurnal Ilmiah Kajian Pendidikan dan Kebudayaan, Nomor 9, Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan (Balitbang Dikbud), Jakarta.

Ramalan Besar yang Mengejutkan Dunia (1) :

Bencana Tsunami Aceh Telah di Prediksi Sebelumnya

Jucelino Noberga da Luz

(Erabaru.or.. id) – Jucelino Nobrega da Luz adalah orang Brasil, lahir tahun 1960, profesinya saat ini ialah guru sekolah, dan dengan istri serta kedua anaknya menjalani hidup yang sederhana, ia adalah penduduk kota yang sangat biasa. Peristiwa yang ia ramalkan disertai tanggal, bulan, tahun kejadian bencana besar dan dilengkapi dengan petunjuk yang jelas, selain itu agar di kemudian hari jikalau terdapat pihak ketiga yang meragukan kesahihan ramalannya, Jucelino selalu mempublikasikan ramalan dengan tanggal dan peristiwa kejadian, meminta untuk disahkan  biro notaris atau jawatan pos negara, sehingga memudahkan pihak lain melakukan pemeriksaan.

Ramalan Jucelino secara beruntun terbukti

Apabila orang atau makna yang ditemuinya di dalam mimpi termasuk urusan pribadi, ia hanya memberitahukan kepada yang bersangkutan, tetapi jika yang bersangkutan adalah seorang kepala negara atau tokoh terkenal dan berkuasa di dalam masyarakat, selain akan berefek besar terhadap masyarakat, maka ia juga akan memberitahu pers dan media massa  di negara tersebut.  Perbedaan Jucelino dengan ahli ramal lainnya ialah, firasat yang ditemui dalam mimpinya akan disampaikannya secara utuh dan tanpa diseleksi, langsung kepada yang bersangkutan. Selain itu seperti yang disampaikan di atas, ia juga memberitahu kepada yang bersangkutan tentang pendokumentasian perihal ramalannya di biro notaris pemerintah, atau memperoleh bukti pengiriman dari jawatan pos negara, adakalanya ia mengirim surat yang dilampiri resi tentang suratnya atau mengirim berita singkat kepada yang bersangkutan. Oleh karena itu ia setiap hari membutuhkan biaya cukup besar untuk keperluan korespondensi firasat mimpinya. Biaya-biaya tersebut harus berasal dari penghasilan minim seorang guru yang kehidupan sehari-harinya dilakukan dengan berhemat.

Ada yang bertanya kepadanya pada umur berapa ia mulai bermimpi firasat mimpi, ia menjawab sejak usia sembilan tahun, dimulai pada tahun 1969, sehari ia terkadang bermimpi 3 hal, juga pernah bermimpi sembilan hal, setiap hari jumlah yang ia mimpikan tidak sama.  Ia berkata, firasat mimpi yang ditemuinya selalu muncul dengan alami di dalam situasi mimpinya, sama sekali bukan ia sendiri yang memilihkannya.  Jucelino dikala berusia 19 tahun, berjumpa dengan orang suci peramal terkenal di Brasil,  Franciscoshabiz, sesudah itu bencana dan peristiwa berskala dunia secara berangsur bertambah di dalam firasat mimpi. Franciscoshabiz pernah dua kali dinominasikan sebagai peraih hadiah Nobel perdamaian, ia adalah ahli supra natural tersohor, juga adalah seorang dermawan.   Oleh karena hubungan sebab akibat ini, kejadian yang diramal Jucelino sudah melebihi 80.000 kasus, mari kita simak dari firasat mimpinya beberapa ramalan pilihan bersifat internasional dan bencana berskala besar yang sudah terjadi, agar kita bersama-sama kilas balik dengan peristiwa di bawah ini:

Peristiwa terbunuhnya Putri Diana

Tanggal 4 Maret 1997, surat peringatan yang dikirim via pos kepada Lady Diana, ‘Saya menerima info dari Tuhan, ada orang berniat jahat merencanakan skenario kecelakaan mobil terhadap anda, jiwa anda juga bisa mengalami bahaya, tujuh malaikat mengatakannya demikian kepada saya. Kemungkinan anda akan tewas di dalam kecelakaan mobil kali ini, namun para pakar barangkali bisa menganggapnya sebagai human error saat berkendara dan mengurusinya sebagai kejadian kecelakaan, akan tetapi mereka salah sama sekali. Pembunuhnya ada di dekat anda…..peristiwa pembunuhan ini kemungkinan terjadi sebelum tibanya tahun 2000.’

Jucelino juga pernah mengirimkan surat peringatan tersebut per pos kepada tiga media cetak besar Inggris yakni Times, Daily Telegraph dan Guardian, tetapi hingga hari ini tidak pernah diberitakan. Peristiwa kecelakaan mobil terjadi setelah lima bulan sejak terkirimnya surat peringatan yakni tanggal 31 Agustus 1997, persis seperti uraian ramalan bahwa pada akhirnya diselesaikan dengan sembrono sebagai human error dalam berkendara.

Di dalam ramalan dicatat bahwa peristiwa itu bisa terjadi sebelum tahun 2000, meskipun tidak terdapat tanggal, bulan dan tahun yang pasti, tetapi dua tahun sebelum ramalan, di dalam surat yang dikirim Jucelino kepada presiden Brasil ketika itu Fernando Henrique Silva Cardoso, disebutkan (surat ini dibubuhi stempel biro notaris) bahwa, ‘Tahun 1997 sampai 1998 Lady Diana bisa tewas….’

Dua kali serangan terhadap WTC, kali kedua adalah kejadian teror 911

Tahun 1989, sebuah surat peringatan dikirim kepada presiden Amerika dan kedutaan Inggris, surat tersebut tertanggal 26 Oktober 1989 per pos dan tercatat di kantor notaris Klicheeba di kota Palana.

Di dalam surat tersebut juga diramalkan bahwa tahun 1993 untuk kali pertama  WTC bakal diserang, meskipun tidak dinujum tanggal serangan, namun serangan kedua kalinya dengan sangat jelas disebutkan pada tanggal 11 September 2001. Mengenai hasil dari surat peringatan tersebut, telah anda ketahui. Serangan pertama WTC terjadi tiga setengah tahun sesudah surat peringatan diterima yakni tanggal 26 Februari 1993, suatu kasus peledakan areal parkir yang menimbulkan korban tewas dan terluka, sedangkan serangan kedua terjadi pada 12 tahun kemudian yakni 11 September 2001, ‘ Kasus serangan 911 dilakukan serentak oleh banyak teroris’ yang telah menggemparkan dunia.

Yang membuat orang terkejut dan terheran-heran ialah di dalam surat peringatan/ramalann ya itu juga tercatat: sesudah serangan kedua terhadap WTC, meletus perang Afghanistan dan Irak, setelah Irak terkalahkan, presiden Saddam Hussein melarikan diri dan bersembunyi di wilayah Irak tengah di kota Ad Dawr dan lain sebagainya, juga diramal dengan terperinci, peristiwa yang para pembaca sudah ketahui semua, di dalam surat ramalan tersebut kejadian yang diramalkan satu per satu telah terjadi.

Surat peringatan itu juga dikirim per pos kepada ayah presiden sekarang George Bush, kala itu si Bush tua, surat peringatan ramalan per tahun 1989 tersebut ditulis 9 tahun kemudian pada tanggal 28 Oktober tahun 1998 dan dikirim ulang kepada presiden Clinton, di dalam surat tersebut disampaikan: ‘Jucelino sangat mengkawatirkan bencana yang dulu telah dilihatnya di dalam mimpi, itu adalah kaum teroris melancarkan serangan terhadap pulau Manhattan, gedung jangkung dikepung oleh api raksasa yang datang dari langit. Mungkin saja ada orang mengira bahwa ini sedang berkelakar dan tidak menganggapnya serius, akan tetapi mutlak bukan lelucon, oleh karena itu saya mengirim surat kepada media utama Amerika, berharap mereka bisa mempublikasikan surat peringatan ramalan saya.’

Seperti dijelaskan di depan, peristiwa besar semacam itu bisa berdampak kepada masyarakat, Jucelino biasanya mempublikasikannya sebelum kejadian, ia tidak saja menghubungi yang bersangkutan, bahkan isi yang sama, ia kirim bersamaan ke media massa dan sebagainya. Namun sampai dengan sekarang, nyaris tak ada perusahaan media massa yang mau menerima permintaannya untuk menyiarkan kepada khalayak. Demikian pula agen berita Miami Herald yang persis menerima surat peringatan itu membalas surat singkat kepada Jucelino dengan isi :

‘Di dalam surat anda yang dikirim kepada kami per tanggal 26 Oktober 1989, diramalkan bahwa gedung WTC pada tanggal 11 September 2001 akan mengalami serangan kaum teroris, terhadap ramalan ini agen berita kami memberikan apresiasi. Selain itu anda juga di dalam surat tersebut meramalkan Amerika bisa terjadi 2 kali perang, akhirnya bisa bertempur melawan Irak, juga Saddam melarikan diri, serta tentang ia lari dan bersembunyi di Ad Dawr, Irak tengah dan lain berita detail lainnya telah dengan rinci diramalkan. Sayang sekali kami tidak bisa mempublikasikan isi berita seperti itu, karena kami khawatir bisa menimbulkan kepanikan di kalangan masyarakat…’

Mengenai lokasi persembunyian Saddam, sesudah peristiwa terjadi pada tanggal 13 September 2001, pos yang disampaikan kepada presiden Amerika George Bush dengan sangat detail diceritakan tentang ‘lokasi persembunyian Saddam, di sebelah luarnya terdapat sebuah poster tentang bahtera nabi Nuh, di tepi sungai Tigris terdapat sebuah lobang, di atasnya ditutupi dengan papan kayu dan karpet imitasi, aksesnya dikamuflasekan dengan batu bata, tanah dan sampah.’

Kemudian sesudah membaca berita baru mengetahui bahwa ramalan Jucelino betul-betul sangat tepat, ramalan yang pada realitanya membuat orang sangat tercengang itu masih terus berkelanjutan. Tentang Saddam pasca penangkapan dari pemberitaan pers kita ketahui bahwa sesudah dinyatakan bersalah dan divonis hukuman mati dan dieksekusi pada tanggal 30 Desember 2006 lalu.  Sesudah itu terjadi pertentangan sengit antar kelompok Sunni dan Syiah di negeri Irak, bisa sewaktu-waktu mengakibatkan situasi perang saudara, setiap pagi dan malam hari banyak korban tewas warga sipil tak berdosa telah berjatuhan.

Namun vonis mati Saddam seperti ini dan Irak pasca Saddam dipenuhi kekalutan di dalam negeri, berkaitan dengan ramalan Jucelino ini, tanggal 29 Mei 2006 lalu telah dikirim kali ketiga kepada Radio Pass FM Indonesia yang berada di Jakarta, isi seluruhnya cocok, sebagai berikut :

‘Menurut pengadilan Irak, Saddam di vonis bersalah, dan kemungkinan dieksekusi mati pada tanggal 30 Desember 2006.  Dengan demikian seluruh negeri Irak akan terjadi pertikaian, dan akan terjadi banyak korban jiwa.’  Selain itu, sering kali firasat mimpi tepat ditunjukkan kepada Jucelino, membiarkan dia di dalam alam mimpi melihat tokoh dari musibah dan bencana dunia, dari sini bisa diketahui bahwasanya ia bukan ‘manusia biasa’, ia pasti memiliki kekuatan meneropong masa depan dan kemampuan meramal yang menakjubkan.

Gempa besar di laut Sumatera

Surat peringatan terawal yang dikirim ialah 8 tahun sebelum terjadi Tsunami di Aceh tahun 2004, tepatnya pada tanggal 16 September 1996 lalu, dikirim per pos kepada duta besar India di Brasilia, ibu kota Brasil.  Di dalam surat tersebut diramalkan bahwa tanggal 26 Desember 2004 pagi hari di propinsi Aceh, Indonesia bakal terjadi gempa bumi 8,9 skala Richter, Indonesia dan India diterjang Tsunami setinggi 10 meter itu. Surat peringatan kepada presiden Indonesia Soeharto dikirim per tanggal 30 April 1997, isi surat tersebut: ‘Saya di dalam mimpi melihat tanggal 26 Desember 2004 pagi hari jam 7, Asia Selatan bakal diguncang oleh 8..9 skala richter gempa besar, bersamaan dengan itu juga bisa terjadi tsunami setinggi 10 meter, area penyebarannya dimulai dari propinsi Aceh, Indonesia, India, Malaysia, Sri Langka, Thailand, Maldivas, Bangladesh dan sebagainya bahkan mencapai hingga Mauritius. Dan bakal ada 100.000 jiwa terenggut…’

Alhasil, gempa bumi sesuai ramalan di dalam surat peringatan tersebut terjadi pada pagi hari jam 7.58 tanggal 26 Desember 2004, angka tewas melebihi 200. 000 orang, gelombang tsunami tertinggi mencapai 30 meter, ada banyak sekali orang raib ditelan tsunami yang menerjang  pantai. Para kedubes seperti Indonesia , Filipina , Thailand dan lain-lain, juga telah menerima surat yang sama, surat resmi tersebut semuanya terlampiri stempel jawatan pos terkait.  Selain itu Jucelino juga menerima surat ucapan terima kasih dari berbagai kedubes atau pejabat sekretariat kepresidenan negara bersangkutan.

Surat ucapan terima kasih dari kantor kepresidenan berisi keluhan sebagai berikut: ‘Mengenai gempa bumi dan tsunami jikalau sampai terjadi pada tahun 2004, demi menghindari terjadinya bencana yang mengerikan ini, ada banyak hal terpaksa harus kami lakukan, namun kami juga merasa tak berdaya.’ Selain itu, isi surat balasan sederhana berasal kedubes Indonesia : ‘….kami akan menyampaikan isi surat anda kepada negara kami, apabila ada berita lain yang hendak disusulkan, jangan ragu-ragu menyampaikan. ‘

Dari situ bisa diketahui, 8 tahun sebelum bencana terjadi, Jucelino sudah meramalkan bakal ada gempa bumi super-besar dan tsunami besar melanda kawasan Asia Selatan dengan korban tewas melebihi 100.000 orang, dari dalam surat peringatan tersebut dengan rinci kami dapat mengetahui bahwa Jucelino juga secara parsial mengirim surat resmi pemberitahuan dengan detail tentang tahun, bulan, tanggal dan waktu kejadian, kepada negara-negara yang bakal tertimpa bencana, namun pada kenyataannya tiada langkah-langkah pencegahan efektif apapun yang dilakukan. <Bersambung>

(The Epoch Times/whs)

Erabaru.or.id) – Peramal jitu Jucelino Nobrega da Luz adalah orang Brasil, pada 2 edisi terdahulu telah membabarkan ketepatan ramalannya . Minggu ini kita akan menyajikan ramalan masa depan.

Tahun 2008
-Obat penangkal penyakit AIDS dan Dengue berhasil ditemukan..
-Tanggal 18 Juli bakal terjadi gempa bumi besar di Filipina, akan terdapat ribuan korban tewas.
– Empire State Building , New York , pada bulan September bakal mengalami peristiwa teror.
-Pada tanggal 13 September akan terjadi gempa besar 9,1 skala richter di Tiongkok, sumber gempa di Nanning dan pulau Hainan, bersamaan itu bakal terjadi tsunami besar setinggi 30 meter lebih, menimbulkan jutaan korban tewas. Tsunami tersebut sangat mungkin menyapu Jepang pula.

Tahun 2009
-Tanggal 25 Januari bakal terjadi gempa bumi besar ber-skala richter 8,9 menyerang Osaka dan Kobe , Jepang, dikuatirkan korban tewas mencapai beberapa puluh ribu orang.
-Bulan November di Jepang terjadi lagi gempa bumi besar, bakal ada ribuan orang tewas.
-Pemerintah Brazil dikarenakan krisis ekonomi dan tidak mampu menerbitkan dana asu-ransi dan pensiun, sehingga rakyat di ibu kota dan penjara memberontak.
-Tanggal 24 Agustus Istambul, Turki, bakal terjadi gempa bumi besar berskala Richter 8,9, jalanan banyak yang retak dan patah.
-Tanggal 16 Desember di wilayah timur Sumatra , Indonesia , bakal terjadi 7,8 skala Richter gempa bumi, ribuan orang tewas.

Tahun 2010
-Temperatur beberapa negara Afrika kemungkinan besar meningkat hingga 58° Celcius, bersamaan itu terjadi kekurangan air bersih yang parah.
-Tanggal 15 Juni pasar saham di New York bakal runtuh, ekonomi dunia akan memasuki kondisi krisis.
Suhu di Afrika bisa mencapai 58° Celcius, angka yang pada awal mendengar seolah-olah sulit dipercaya, namun pada kenyata-annya pada awal bulan Mei 2007, menurut info para pelancong yang pergi ke sekitar wilayah Afrika, temperatur di Yunani dan Turki sudah mencapai 39° hingga 40° Celcius, sedangkan ibu kota utama Irak dan jazirah Arab temperatur tingginya berta-han di suhu 45° – 46° Celcius, pada musim panas suhu tertinggi dimungkinkan terjadi. Suhu awal Mei saja sudah sedemikian tinggi, bisa dibayangkan pada tahun 2010 kelak pemanasan global bakal semakin parah, temperatur di banyak negara Afrika sangat dimungkinkan mencetak rekor tertinggi yang susah dibayangkan.

Tahun 2011
-Penelitian metode penyembuhan penyakit kanker berhasil dengan sukses, akan tetapi jenis penyakit baru lainnya bakal muncul.
-Wabah beracun yang mematikan bakal muncul, dinamakan ALS (red.: terjemahan harfiah, belum tentu akurat) yang menyebabkan kehilangan kekebalan tubuh, apabila terjangkit penyakit tersebut dalam tempo 4 jam bakal meninggal.
-Flu burung jenis H5NI mulai resmi menyerang umat manusia, hingga tahun 2013 terdapat sekitar 73.000.000 orang tewas karena virus ini.

Ciri khas ramalan Jucelino tidak saja meramalkan penyakit menular dan terjadinya gempa, bahkan penyakit yang belum terjadi dan nama dari gempapun bisa diramal, misalnya judul buku karangan Al Gore, mantan wakil presiden AS, berjudul An Inconvenient Truth, angin puting beliung menyapu ibu kota Brazil, Rio de Janeiro menimbulkan ri-buan korban tewas, ALS sebutan untuk penyakit menular yang muncul pada tahun 2011, gempa bumi besar dari San Francisco, AS, tahun 2006 dinamakan The Big One dan lain-lain contoh tipikal.

Tahun 2012
-Oleh karena perluasan area kebakaran ladang sewaktu musim kekeringan, gurunisasi dimulai, antara tahun 2015 – 2020 rimba belantara Amazon bakal lenyap.
-Mulai 6 Desember langit berubah memasuki jaman awan hitam, disebut sebagai kabut pekat karena cuaca.
-Oleh karena tersebar luasnya penyakit menular umat manusia mulai punah.

Tahun 2013
-Penelitian untuk metode penyembuhan penyakit kanker selain tumor otak dinyatakan berhasil.
-Pulau Bahama dari kepulauan Hindia barat (gugus kepulauan dekat Karibia), antara tanggal 1 -25 November dikarenakan letus-an gunung berapi terjadi gempa bumi, sesudah itu juga bakal terjadi tsunami super raksasa seting-gi 150 meter, gelombang tsunami setinggi kira-kira 80 meter akan menyapu lautan Karibia, daratan AS, Brazil dan lain-lain juga bakal diterjang masuk jauh ke daratan hingga 15 – 20 km. Sebelum tsunami terjadi, air laut akan surut sedalam 6 meter, sejumlah besar penyu juga akan mulai bergerak.

Diramalkan oleh Jucelino di saat anjing dan kucing mengetahui akan ada bencana besar menimpa, mereka tentu akan melarikan diri dari tempat tinggalnya, 24 jam sebelum meninggalkan lokasi mereka akan menunjukkan tanda-tanda gerakan tak lazim, maka itu kita bisa berdasarkan hal tersebut menjadikannya sebagai standar pengamatan.

Tahun 2014
Planet kecil perlahan-lahan mendekati bumi dan ada kemungkinan bertubrukan dengan bumi, eksistensi planet kecil ini mempengaruhi permasalahan tentang timbul tenggelamnya umat manusia di bumi.

Tahun 2015
Pertengahan November suhu rata-rata dunia kemungkinan mencapai 59° Celcius, ada banyak orang mati kepanasan, dengan demikian kekalutan besar dunia semakin parah saja.

Tahun 2016
-Pertengahan bulan April terjadi serangan taifun, ada ibu kota di Tiongkok mengalami kerusakan, sekitar 1.000 orang tewas.
-Presiden AS saat ini George W. Bush bakal masuk ruang gawat darurat RS, jiwanya di ambang kematian.

Tahun 2018
Mengenai masalah pendekatan planet kecil ke bumi, para pemimpin berbagai pemerintah-an dunia berkumpul mengadakan rapat penanggulangannya. Juce-lino pada tahun 2000 sudah me-ramalkan, selain itu juga memberitahu keberadaan planet kecil itu kepada NASA, pada tanggal 31 Juni 2002 sebagian kecil petinggi NASA menamakan planet kecil tersebut ‘2002NZT7’.

Tahun 2019
-Kemungkinan besar solusi dari hasil penelitian bakal menggunakan kekuatan ilmiah, akan tetapi apabila bumi bertabrakan dengannya, maka bisa mengakibatkan 1/3 penduduk dunia musnah. Jucelino meramalkan kemungkinan planet kecil menubruk bumi sebesar 60%.
-Wilayah laut timur Jepang bakal terjadi gempa bumi super besar yang masih lebih hebat daripada gempa bumi besar yang pernah terjadi di lautan Sumatera , Indonesia .

Tahun 2025
– Para pakar klimatologi menemukan kembali planet kecil, ternyata sangat mungkin berta-brakan kembali dengan bumi, kemungkinan bertubrukan mencapai 80%.

Tahun 2026
-Terjadi gempa super besar di San Francisco pada bulan Juni, disebut sebagai ‘The Big One’, patahan besar San Andreas Fault bisa rusak, negara bagian California bisa hancur, banyak kawah gunung berapi bakal terbuka kembali, ketinggian tsunami juga bisa melebihi 150 meter.
Dari ramalan peringatan untuk masa depan, selain ramalan seperti tersebut di atas, masih ada ramalan yang lebih mengejutkan orang, ramalan terakhir yang bisa disampaikan Jucelino adalah hingga tahun 2043

Tahun 2043
Penduduk dunia berkurang secara drastis, terdapat sekitar 80% penduduk tewas di dalam bencana.

Pesta olahraga Olimpiade dunia dilangsungkan di Beijing apakah bakal berjalan dengan lancar?
Seperti dikisahkan di depan, tahun 2008 akan terjadi gempa bumi besar 9,1 skala richter menimbulkan jutaan korban tewas di Tiongkok, menurut ramalan Jucelino, tanggal terjadinya gempa ialah 13 September, sedangkan tanggal berlangsungnya Olimpiade ialah 8 – 24 Agustus, ditilik dari jadwal tersebut, sesudah Olimpiade usai baru terjadi gempa bumi. Tetapi yang dikuatirkan ialah sebelum terjadi gempa besar tersebut, gempa-gempa kecil bakal terjadi berulangkali (pada bulan mei 98 ini juga terjadi gempa yang cukup dahsyat di China ), yang juga bakal membuat negara dan rakyat memasuki era tidak tenang.

Meskipun Jucelino tidak dengan jelas memastikan tepat kapan terjadinya, namun jika dia-sumsikan dengan 1 hingga 2 bulan, sangat mungkin terjadi sewaktu berlangsungnya Olimpiade, kalau memang demikian bisa membuat kepercayaan penyelenggara dan atlet peserta menjadi goyah. Sewaktu penulis membaca sepotong ramalan Jucelino, di dalam benak sekejap teringat akan pesan Mr. John Titoer (terjemahan harfiah, belum akurat) bahwa ‘Olimpiade Athena pada tahun 2004 adalah yang terakhir.

Akan tetapi, pusat gempa sesuai ramalan apabila terjadi di Nanning dan sekitar pulau Hai-nan, pulau terujung di Tiongkok, sedangkan di sekeliling kedua tempat tersebut asalkan tidak dibangun arena pertandingan, maka Olimpiade dunia bakal ditutup dengan sukses. Namun letak persoalannya ialah pemerintah PKC (Partai Komunis China ) hanya mementingkan jaga muka, dengan hanya memprioritaskan keberhasilan Olimpiade lantas mengabaikan gempa awal yang semakin kerap, kemungkinan tia-danya antisipasi terhadapnya sa-ngat tinggi. Pemerintah PKC barangkali bakal menyesuaikan si-kon akan membatasi pemberitaan, memblokir berita kejadian gempa awal yang diramalkan terhadap pers dalam dan luar negeri, tindakan semacam itu mutlak bakal membuat bencana seperti yang diramalkan bertambah parah. Di dalam surat peringatan Jucelino dikatakan: ‘Jikalau tidak dilakukan proteksi yang baik terhadap masyarakat sipil, bisa membawa kerugian sangat parah.’

Ramalan Jucelino juga menyebutkan kedatangan jaman es
Ia juga meramalkan dengan tepat tentang anomali cuaca, salah satunya, pada tahun 2003 terjadi suhu panas di Eropa, di dalam surat peringatan tanggal 29 Oktober 2001 Jucelino meramalkan: ‘Alam akan menyerang balik bumi, kenaikan temperatur di Perancis, Jerman dan Portugal menimbulkan puluhan ribu korban tewas, bencana ini bisa terjadi pada tahun 2003 dan 2004.’ Realitanya, suhu musim panas di Eropa pada tahun 2003 mencapai puncaknya, terdapat sekitar 35 ribu orang mati kepanasan. Diantaranya di Perancis dan Jerman yang paling hebat, korban tewas di Perancis sebanyak 14.000 jiwa, di Jerman sekitar 7.000 orang.

Disimak dari ramalan Jucelino, pemanasan global semakin lama semakin naik, sampai tahun 2012 suhu di negara Afrika barangkali bisa mencapai 58° Celcius yang meresahkan orang, bersamaan dengan itu juga bisa terjadi kekurangan air yang parah, sesudah itu suhu juga akan sema-kin naik, hingga tahun 2015 suhu rata-rata bumi bisa mencapai 59° Celcius, banyak orang akan mati kepanasan, ketakutan besar umat manusia akan semakin menggl-bal. Apabila betul-betul terjadi seperti itu, tentu saja bisa berakibat kekeringan dan kekurangan pasokan pangan dan menimbulkan ketegangan antar negara, Ju-celino juga meramalkan tahun 2011 bisa jadi kekurangan air maka menimbulkan meletusnya perang baru, tentang perang ini ia tidak meramalkan secara rinci, namun dirasakan itu bukannya perang perbatasan yang sederhana.

Bagaimanapun gejala pemanasan yang terjadi sekarang ini bukannya seperti yang dianggap para pakar cuaca bahwa ‘kecepatan pemanasan sangat lamban’, melainkan melonjak dengan drastis. Akan tetapi pemanasan seolah-olah juga mutlak tidak berlangsung terus menerus, sesudah pemanasan global, telah menanti gejala berbalik menjadi ekstrim dingin. Asalkan suhu bumi sedemikian meningkat drastis, pulau Greenland dan kutub selatan akan ada es dalam jumlah cukup besar yang meleleh, hal mutlak yang tak dapat dihindari, alhasil sirkulasi besar samudra menjadi lemah sehingga berubah menjadi efek pendinginan, meluncur secepat kilat, yang me-nandakan akan terjadi sebuah kelahiran jaman es baru. Dalam ramalan Jucelino sepertinya juga dibuktikan bahwa pada tahun 2027 sesudah terjadi keadaan pendinginan global, masih lagi akan menghadapi sebuah jaman es yang baru. Isi detail ramalan tersebut :

‘Gunung berapi Yellow Stone Park di Amerika mulai meletus, oleh karena semburan api begitu besar sehingga menga-kibatkan lahar dan asap akan meluas ke segala penjuru hingga sejauh 1..600 km, seperti Kansas, Nebraska dan Montana dan lain sebagainya, bakal mengalami bencana besar, sesudah gunung api ini meletus bisa terlahir lagi jaman es baru. Letusan gunung berapi bukan hanya terjadi di Yellow Stone Park , di seluruh tempat di dunia bisa juga terjadi, oleh karena semburan asap telah menutupi matahari, lebih-lebih lagi arus sirkulasi besar dari samudera terhenti maka telah merangsang pembentukan gejala pendinginan global.

Al Gore memperoleh hadiah nobel perdamaian
Seperti telah anda ketahui, mantan wapres AS, Al Gore berupaya terhadap penelitian per-masalahan pemanasan global, karangannya yang terkenal yakni ‘An Inconvenience Truth’ telah dibuatkan filmnya, malah juga telah memperoleh hadiah Oscar, sehingga banyak orang menyambut dengan getir permasalahan pemanasan global Al Gore yang dipindahkan ke layar perak. Sesungguhnya pada 19 tahun yang lalu, yakni pada tahun 1988, Jucelino sudah meramalnya, berita itu dimuat di majalah Moon edisi 6, akhir bulan Mei sebelum dipublikasikan, kepala editor penelitian sewaktu memberitahu penulis, saya juga merasa terkejut sampai tercengang sejenak.

Menurut surat ramalan kepada Al Gore yang kala itu menjabat anggota kongres yang dikirim per pos pada tahun 1988 oleh Jucelino sudah diinfokan kepada Al Gore, dari tahun 1993 – 2001 ia bakal menjabat wapres pemerintahan Clinton, kelak akan berusaha dengan gigih terhadap kegiatan yang melindungi lingkungan hidup di bumi, selain itu juga bakal tersohor dengan buku karangannya berjudul ‘An Inconvenience Truth’, dalam surat yang ditulis dalam bahasa Inggris itu, Jucelino juga menyebut dengan tepat judul bukunya. Selain itu di dalam surat ramalan tersebut juga diberitahukan kegiatan Al Gore tersebut bakal diakui dan berhasil memperoleh hadiah Nobel perdamaian tahun 2007. Kemampuan ramalan Jucelino tidak bisa kita sangkal.

Waktu yang diberikan kepada umat manusia tidak tersisa banyak, mulai Desember 2007, awan hitam bakal menyebar keseluruh pelosok dunia

Ramalan Jucelino, andaikata umat manusia kita masih mempertahankan keadaan seperti sekarang ini, umat manusia dari tahun 2008 – 2012 bakal menjalani hari-hari penuh ketakutan, pertanda awal sebelum bencana terjadi, langit di seluruh dunia akan diselimuti dengan ‘awan hitam’. Selalu merasakan bencana demi bencana besar yang akan disongsong oleh dunia di masa depan, termasuk pergerakan cuaca dan meletusnya perang, bencana diupayakan menjadi 0, apabila masih saja terjadi, juga apabila mengubah cakupannya menjadi kecil, akhir tahun 2007 adalah batas paling akhir umat manusia mulai mendusin. Jucelino mendambakan akhir tahun 2007 di dunia bakal terjadi ‘perubahan kesadaran’ yang besar.

Parahnya situasi telah begitu mendesak, tapi jikalau kita umat manusia masih saja berkeras kepala mempertahankan ketidakpedulian dan mati rasa, Jucelino memperingatkan kepada umat manusia tentang ramalan masa depan yang gelap, seakan-akan sudah bakal terjadi secara terus menerus. Kita setiap orang harus sadar, lebih-lebih harus menya-dari sikonnya yang begitu parah, entah secara pribadi, kelompok, tingkatan negara, menjaga pos kerja masing-masing, bertindak dengan gerakan nyata, karena batas terakhir bakal tiba.

‘Tanpa tenaga’ dan ‘minim tenaga’ mutlak tak bisa disamakan, makna tanpa tenaga ialah tak peduli menggalang berapa banyak orangpun tak akan terbentuk tenaga, sedangkan minim tenaga, bila jumlah orang yang dikumpulkan semakin banyak, maka tenaganya bisa berubah semakin perkasa. Misalkan saja dimulai dari diri sendiri masing-masing orang, meskipun tenaga seseorang lemah, namun kita bisa mempengaruhi beberapa juta bahkan puluh juta orang, menentukan sebuah kekuatan perkasa yang bisa dibentuk untuk mengubah bencana besar pada masa depan.

Artikel ini dikutip dari internet, kami tampilkan semata-mata hendak menyediakan informasi yang lebih banyak kepada pembaca.(gts)

Mark M. Pitt, Mark R. Rosenzweig, and Md. Nazmul Hassan

BREAD Working Paper No. 093



Review-oleh Gatot Subroto

I. Ringkasan Artikel

Artikel ini menceritakan bahwa, di banyak area rural pada negara-negara yang berpendapatan-rendah, bahan bakar biomass merupakan sumber energi rumah tangga yang utama, artinya bahwa pengotoran udara dalam ruangan (indoor air pollution/IAP) merupakan satu masalah kesehatan yang sangat serius. Jika eksposur terhadap IAP adalah terbesar di area pembakaran terjadi, terutama di dapur, IAP akan sebagian besar mempengaruhi para perempuan juru masak dan anak-anak yang mereka asuh (dalam pengawasan).

Menggunakan data survey tahun 2000-2003 terhadap 1638 rumah tangga pedesaan di Banglades, dimana biomass sebagai bahan bakar menyediakan lebih dari 90 persen energi rumah tangga, kita menyelidiki; (i) tingkat dimana pembagian dari tanggung-jawab rumah tangga, struktur rumah tangga, dan dimensi serta lokasi fasilitas dapur secara sebab akibat mempengaruhi kesehatan para perempuan serta anak-anak, mempertimbangkan perilaku optimizing di dalam rumah tangga, dan (ii) apakah rumah tangga bertindak seperti jika mereka sedang mendapat beban dari satu penyakit secara optimal.

Hasilnya meyakinkan dugaan terhadap kegiatan bahwa membuat ventilasi yang kurang baik dapat mempengaruhi kesehatan pernapasan para perempuan dan anak-anak yang mereka asuh serta rumah tangga, nampak seperti sadar akan serta mencoba untuk mengurangi efek kesehatan dari kegiatan memasak dengan menggunakan biomass dalam keputusan alokasi waktu mereka, mencakup efek terhadap anak-anak muda, seperti para perempuan itu dengan kesehatan memberkati yang lebih rendah mempunyai lebih besar eksposur untuk merokok dan para perempuan dengan anak-anak yang sangat muda mempunyai lebih sedikit eksposur ke polutan (penghasil polusi). Artikel ini juga menemukan, bahwa sehubungan dengan error pengukuran, konvensional memperkirakan dari dampaknya dari hal penghisapan asap diremehkan pada hakekatnya. Akhirnya, hasilnya meyakinkan bahwa meningkatkan ventilasi dengan cara meningkat penyerapan air atau gas dari atap atau dinding tidak mempunyai efek signifikan terhadap tingkat kesehatan, konsistensi dengan penelitian terlebih dahulu yang menguji polutan (penghasil polusi) sumber titik dan data kesehatan.

Selanjutnya, dalam mengkaji faktor penentu dari kesehatan buruk dan angka kematian di negara-negara berkembang, sebuah faktor penting yang baru-baru ini didapat adalah penting terhadap kerugian kesehatan yang berhubungan dengan eksposur pada pengotoran udara dalam ruangan (IAP) rumah tangga pedesaan miskin. Kira-kira satu setengah populasi dunia andalkan biomass dan batubara sebagai mereka primer sumber energi rumah tangga. Biomass menyulut, seperti kayu, sampah panen, dan rabuk, rekening untuk satu setengah energi rumah tangga di banyak negara-negara berkembang, dan untuk sebanyak 95% dalam beberapa orang-orang pendapatan lebih rendah, seperti Banglades rural (Biswas dan Lucas, 1997). Pengotoran udara Dalam ruangan adalah dengan begitu dipertimbangkan satu masalah kesehatan serius dalam setting pendapatan-rendah. Eksposur ke IAP dari pembakaran padat (solid) menyulut masih sedang dihubungkan, dengan bervariasi gelar bukti, sebagai sebuah penyebab beberapa penyakit termasuk infeksi pernapasan yang akut (ARI), kronis penyakit berkenaan dengan paru-paru yang bersifat menghalangi (COPD), sakit asma, penyakit mata seperti katarak dan kebutaan, dan berat/beban kelahiran rendah serta syarat-syarat neonatal berhubungan (sebagai hasil eksposur maternal selama kehamilan). ARI tanggung untuk 6 persen penyakit dan mortalitas di seluruh dunia, sebagian besar di negara-negara berkembang. [mortalitas] Global dari IAP adalah secara konservatif diperkirakan jam 1.5 juta kepada 2.0 juta kematian pada tahun 2000.

II. Revieu Teori

Diperkenalkan satu model heuristik sederhana untuk menunjukkan bagaimana pencarian rumah tangga untuk meminimumkan beban dari satu aktivitas tak sehat tetapi yang diperlukan untuk mengalokasikan tugas tak sehat di antara anggota nya. Mempertimbangkan satu fungsi utiliti rumah tangga dari bentuk

(1) U = U m (Hm, Xm) + Uf (Hf, Xf )

dimana Hm =(hm1, hm2, ….. hmj) adalah sekumpulan status kesehatan J para pria dalam rumah tangga, Hf =(hf1,hf2,…,hfK) adalah sekumpulan status kesehatan K para perempuan dalam rumah tangga, dan Xm =(xm1xm2,…,xmJ) dan Xf =(xf1,xf2,…,xfK) menetapkan alokasi dari barang-barang konsumsi gabungan. Untuk kesederhanaan, kita abstrak dari kesenangan dan mengasumsikan bahwa satu unit tunggal dari waktu dialokasikan antara satu aktivitas produktif yang adalah deleterious pada kesehatan (“memasak”) (tc) dan tenagakerja produktif (ta, “pertanian”) itu tidak. Hanya para perempuan mempersembahkan waktu pada aktivitas memasak, dan demikian kita akan hanya memfokuskan pada alokasi dari para waktu perempuan rumah tangga. Untuk menyederhanakan, diasumsikan bahwa K=2, dan total jumlah dari waktu memasak tc dimana para perempuan dalam rumah tangga harus menyediakan secara tetap. Sebagai akibatnya, pengeluaran waktu untuk memasak harus dialokasikan seperti itu tc1 + tc2 = tc. Kesehatan untuk para perempuan diproduksi dengan teknologi

(2) hfi = hf (tci, x fi) + µfi, i=1, K

(3) 12∂hfi∂tc <0, ∂hfi∂Xf >0″>

dimana: µfi adalah komponen exogenous dari kesehatan.

Produktivitas (pendapatan) dari pengeluaran waktu untuk pertanian adalah sensitif pada kesehatan

(4) wfi = wf (hfi), i=1,2

(5) 12∂hfi∂Xf >0″>

tetapi produktivitas dari pengeluaran waktu untuk memasak, tci, adalah sama untuk semua nilai dari hfi. Rumah tangga memaksimalkan fungsi kegunaan (1) tunduk kepada (2), (4), batasan waktu, dan batasan anggaran

(6) v +∑wfi tai – p∑ xfi = 0

dimana v adalah penjumlahan [dari] pendapatan bukan-nafkah dan netto nafkah pria dari konsumsi (+∑wmi tai – p∑ xmi), dan p adalah harga konsumsi barang x.

Mempertimbangkan satu model dalam masalah maksimalisasi utiliti ini, dimana kontribusi para perempuan ke pendapatan rumah tangga, sisi sebelah kiri dari persamaan (6), dimaksimalkan tunduk kepada batasan tanda waktu. Karena kesehatan hanya mempengaruhi pendapatan melalui pekerjaan pertanian, kemudian sekalipun semua para perempuan adalah serupa (µf1f2) dan tc ≤ 1 (waktu memasak rumah tangga adalah kurang dari waktu yang tersedia untuk setiap para perempuan), satu orang perempuan akan melakukan semua kegiatan dari memasak dan perempuan lainnya akan mengkhususkan dalam pertanian. (Jika, 1 c ≤ 2, satu perempuan hanya khusus memasak dan perempuan lainnya akan memisahkan waktunya antara memasak dan bekerja dipertanian). Dasar pemikiran tersebut jelas – kapan saja waktu dihabiskan untuk kegiatan memasak oleh seorang perempuan akan mengurangi kesehatan dan produktivitas nya dalam kegiatan pertanian tanpa mempengaruhi produktivitas nya dalam kegiatan memasak. Jika satu perempuan secara bawaan tidak lebih sehat dibandingkan lainnya (µf1< µf2), meskipun sampai dengan pada sesuatu yang paling kecil, dia akan melakukan seluruh aktivitas memasak, sementara lainnya akan mengkhususkan dalam bidang pertanian.

Dalam kasus maksimalisasi utiliti, mengganti rugi (kompensasi) satu rumah tangga tidak boleh memperlihatkan kelengkapan spesialisasi tugas, merefleksikan disutiliti pengurangan kesehatan yang disebabkan oleh kegiatan memasak. Meskipun begitu, setiap perempuan sama identik (µf1= µf2), efek diferensial dari kesehatan terhadap produktivitas waktu oleh tugas, secara umum, menghasilkan pengeluaran waktu perempuan akan lebih banyak terhadap kegiatan memasak dibandingkan dengan kegiatan lain, berarti satu pembedaan terhadap pembagian beban kesehatan. Dan jika (µf1< µf2), perempuan sehat semakin sedikit sehingga akan mempersembahkan lebih banyak waktu pada kegiatan memasak. Dengan begitu, pengamatan antara waktu menunjukkan ke lingkungan tidak sehat dan kesehatan-sakit tak sehat akan menjadi satu ukuran naik-turun dari efek peningkatan exogenously eksposur.

Fungsi produktivitas persamaan (4) dapat dibuat secara umum

(7) Wfi = Wf (hfi, µfi, λfi, ), i=1,2

(8) 12∂hf∂λf <0″>

dimana λfi, adalah karakteristik apapun dari seorang perempuan yang mempengaruhi produktivitas dalam pertanian tetapi tidak mengubah utiliti secara langsung. Sama dengan sebelumnya, produktivitas dari pengeluaran waktu untuk memasak diasumsikan untuk tidak dibuat oleh keduanya, yaitu hfi, dan λfi. Satu contoh dari λfi adalah kebutuhan untuk mempedulikan dan mengasuh bayinya atau anak-anak, dimana dapat mengurangi produktivitas waktu seorang perempuan dalam bidang pertanian tetapi hanya mempunyai sedikit efek terhadap efisiensi kegiatan memasak. (Kemampuan kognitif atau fisik, seperti pendidikan yang diterima di sekolah atau kemampuan lainnya, yang mempunyai tingkat pengembalian dalam pasar tenaga kerja tetapi tidak untuk kegiatan memasak, dan yang tidak diamati dalam data, adalah komponen dari λfi). Sebagai contoh, dimungkinkan jauh lebih berat kecenderungannya untuk seorang perempuan sambil mengasuh anak bersama bertani atau memanen padi dibandingkan dengan memasak nasi. Jika seorang perempuan yang mengasuh satu bayi atau anak kecil (λfi >0) mempunyai produktivitas yang rendah dalam pertanian, selain itu adalah sama, akan cenderung untuk menghabiskan lebih banyak waktu kegiatan memasak dibandingkan perempuan lain dalam rumah tangga tanpa anak kecil (λfi=0). Jika alasan ini penting dimana kegiatan memasak dan mengasuh anak merupakan produk gabungan maka proksi dari ibu serta anak, kemudian ada efek eksposur potensial untuk anak ketika ibu mengunjukkan ke lingkungan tak sehat. Dalam model lebih lanjut dimana kesehatan anak-anak merupakan juga komponen dari utiliti rumah tangga, sehingga anak-anak tidak mempunyai peran dalam kontribusi produksi atau pendapatan rumah tangga, ibu dengan anak-anaknya untuk sementara dapat menghabiskan waktu lebih sedikit pada aktivitas tak sehat.

Dalam konteks Banglades, produktivitas relatif (λfi) dan endowmen kesehatan (µfi) bukan satu-satunya faktor-faktor yang mengalokasikan para perempuan tugas, tetapi juga identitas para perempuan dalam kaitan dengan hubungan mereka dengan kepala rumah tangga. Khususnya, Cain, et al. (1979), menggambarkan pembuatan-keputusan rumah tangga di Bangladesh, melaporkan bahwa ibu mertua mendominasi anak perempuan menantunya, ibu mendominasi putrinya, dan kakak laki-laki; abang’ isteri mendominasi adik laki-laki’ isteri. Sorang isteri muda submissively mengikuti pimpinan dari ibu suaminya, dan jarang dilibatkan didalam pengambilan-keputusan (Chowdhury, 1995). Otonomi perempuan menurut pandangan luar dari ibu mertua meningkatkan kelahiran anak-anaknya dan umur nya. Kematian ayah mertua mengikis otoritas terhadap ibu mertua tetapi tidak menghancurkan. Young daughters-inlaw tidak bisa meninggalkan ‘bari’ (campuran keluarga) tanpa ijin, dan kepatuhan pada ‘purdah’ (pingitan para perempuan) adalah lebih tegas untuk satu isteri muda. Setelah beberapa tahun dan kelahiran, daughter in-law meningkatkan beberapa otonomi tindakan dan pergerakan sehubungan dengan ibu mertua serta perempuan lainnya dalam rumah tangga, yang mencakup daughters-in-law lain. Ketika dia mempunyai menantu perempuannya sendiri di dalam rumah tangga, kebebasannya ditingkatkan dan dia biasanya bebas untuk meninggalkan ‘bari’, meninggalkan penyelesaian, tetapi bukan manajemen, dari pekerjaan sehari-hari rumah tangga, mencakup kegiatan memasak, sampai menantu perempuannya.

Fafchamps dan Quisumbing (2001) menyarankan bahwa sistem status sosial berubah di antara perempuan dalam satu rumah tangga mungkin saja mekanisme yang secara sosial bisa diterima menghindari mahal menawar dan friksi dengan cara menyederhanakan proses alokasi tanda waktu dalam cara-cara yang memelihara banyak, tetapi tidak semua, manfaat spesialisasi dan komparatif keuntungan. Mereka meyakinkan norma-norma bahwa jika satus sosial merupakan faktor penentu satu-satunya dari alokasi waktu rumah tangga, efisiensi memerlukan biaya akan berpotensi adalah sangat besar. Adanya beberapa norma-norma, bagaimanapun, menyediakan satu sumber variasi dalam tugas rumah tangga yang independen produktivitas dan kesehatan individual bahwa kita memanfaatkan dalam hasil ekonometri dengan laporan tersebut.

III. Penutup

Banglades khususnya di pedesaan, rumah tangga tidak mempunyai pilihan dalam kegiatan memasak yang harus menggunakan biomass, penelitian terlebih dulu menyarankan bahwa hal tersebut mempunyai efek kurang baik terhadap kesehatan, yang terutama terhadap penyakit pernapasan, sehubungan dengan pengotoran udara dalam ruangan (IAP). Menggunakan data survey tahun 2000-2003 dari 1638 rumah tangga pedesaan dengan informasi terhadap alokasi waktu yang spesifik dan rinci, menyelidiki tingkat pembagian tanggung-jawab rumah tangga, struktur rumah tangga, dan atap serta dinding yang dapat menyerap air atau gas serta lokasi dari fasilitas dapur secara sebab akibat mempengaruhi kesehatan dari perempuan serta anak-anak, mempertimbangkan perilaku optimal di dalam rumah tangga. Penelitian tersebut juga menyelidiki apakah rumah tangga bertindak berkenaan dengan alokasi beban dari penyakit yang disebabkan oleh IAP seolah-olah mereka sadar akan konsekuensi kesehatannya dan mencari untuk meminimumkan kerusakannya.

Hasilnya meyakinkan proksi tersebut dengan mempengaruhi kesehatan pernapasan dari perempuan dan anak-anak yang dalam pengawasan mereka, rumah tangga tersebut nampak sadar akan dan mencoba untuk mengurangi efek kesehatan dari kegiatan memasak dengan biomass yang menyebabkan pengambilan keputusan alokasi waktu mereka, mencakup efek terhadap anak-anak, seperti para perempuan dengan kesehatan yang lebih rendah mempunyai lebih besar eksposur untuk merokok dan perempuan dengan anak-anak yang mempunyai eksposur lebih sedikit pada polutan (penghasil polusi). Tulisan tersebut juga menemukan, bagaimanapun, bahwa sehubungan dengan error pengukuran, konvensional memperkirakan dari dampaknya terhadap hal penghisapan asap diremehkan pada hakekatnya. Akhirnya, hasil tersebut meyakinkan bahwa peningkatan ventilasi dengan cara meningkatkan benda yang dapat menyerap air atau gas misalnya atap atau dinding yang tidak mempunyai efek signifikan terhadap kesehatan, konsisten dengan penelitian terlebih dulu yang menguji polutan (penghasil polusi) sumber titik dan data kesehatan. Fakta rumah tangga yang lebih kaya di daerah pedesaan mencari dan membuat rumah mereka yang lebih tidak dapat menyerap polutan, hal tersebut tidak merefleksikan kebodohan dari dampak kesehatan IAP atau hanya keengganan untuk mengurangi effects nya. Peluang meningkatnya rumah tangga yang menggantikan biomass, untuk mengurangi polusi dimungkinkan lebih efektif dalam meningkatkan kesehatan para perempuan dan anak-anak di area pedesaan dibandingkan program yang mempromosikan perubahan tingkah laku, dengan aneka pilihan yang sudah diberikan.

-o-

IV. Pustaka:

  1. Ahmed K,Hassan N, eds. (1983). Institute of Food Science and Nutrition. Nutrition Survey of Rural Bangladesh 1981-82, Dhaka, University of Dhaka.
  2. Behrman, Jere R. (1988).”Intrahousehold Allocation of Nutrients in Rural India: Are Boys Favored? Do Parents Exhibit Inequality Aversion?”, Oxford Economic Papers, 40:32-54
  3. Behrman, Jere R. (1997) Intrahousehold distribution and the family, in Rosenzweig, Mark and Oded Stark, eds. Handbook of Population and Family Economics, Amsterdam: North Holland, 126-188.
  4. Biswas WK, Lucas NJD. (1997). Energy Consumption in the Domestic Sector in a Bangladesh Village. Energy 22(8): 771-776.
  5. Bruce N, Perez-Padilla R, Albalak R. (2000). Indoor air pollution in developing countries: a major environmental and public health challenge. Bulletin of the World Health Organization 78(9): 1078-92.
  6. Cain, Mead, Syeda Royeka Khanam, and Shamsun Nahar (1979). Class, Patriarchy, and Women’s Work in Bangladesh. Population and Development Review 5(3): 405-438.
  7. Chowdhury, A. (1995). Families in Bangladesh. Journal of Comparative Family Studies (26):27-41.
  8. Dasgupta S, Huq M, Khaliquzzaman M, Pandey K, Wheeler D. (2004a). Indoor air quality for poor families: new evidence. World Bank Policy Research Working Paper 3393, September 2004.
  9. Dasgupta S, Huq M, Khaliquzzaman M, Pandey K, Wheeler D. (2004b). Who suffers from indoor air pollution? Evidence from Bangladesh. World Bank Policy Research Paper 3428, October 2004.
  10. Evenson, Robert E., (1978), Time Allocation in Rural Philippine Households, Amer. J. Agric. Econ., 322-330.
  11. Ezzati M, Saleh H, Kammen DM. (2000). The contributions of emissions and spatial microenvironments to exposure to indoor air pollution from biomass combustion in Kenya. Environmental Health Perspectives 108(9): 833-9.
  12. Ezzati M, Kammen DM. (2001). Quantifying the Effects of Exposure to Indoor Air Pollution from Biomass Combustion on Acute Respiratory Infections in Developing Countries. Environmental Health Perspectives 109(5):481-88.
  13. Ezzati M, Kammen DM. (2002). The Health Impacts of Exposure to Indoor Air Pollution from Solid Fuels in Developing Countries: Knowledge, Gaps, and Data Needs. Environmental Perspectives, 110(11):1057-1068.
  14. Fafchamps, Marcel and Agnes R. Quisumbing (2001). Social Roles, Human Capital, and the Intrahousehold Division of Labor: Evidence from Pakistan. Oxford University, manuscript.
  15. Gauderman WJ et al. (2004). The effect of air pollution on lung development from 10 to 18 years of age. The New England Journal of Medicine 351 (11): 1057-1067.
  16. Pitt Mark M, Rosenzweig Mark R, Hassan Nazmul. (1989). Productivity, Health and Inequality in the Intra- Household Distribution of Food in Low Income Countries. American Economic Review 80(5): 1139-1156.
  17. Strauss, John and Duncan Thomas, (1998). Health, Nutrition, and Economic Development, Journal of Economic Literature, vol. 36(2), 766-817.

by
Charles Blackorby,
David Donaldson, and
John A. Weymark

Reviu oleh Gatot Subroto

Ringkasan artikel
Artikel tersebut mengkhususkan pada pengukuran perubahan kesejahteraan individual yang dikarenakan adanya perubahan distribusi harga dan pendapatan. Untuk seorang konsumen yang pilihan (preferensi) kepuasan-nya diharapkan sama dengan hipotesis utilitinya, kemudian diselidiki apakah ada suatu peningkatan fungsi dari negara yang melakukan compensating variation (CV) yang bernilai positif, jika dan hanya jika satu kebijakan membuat seorang konsumen menjadi lebih buruk (better off) ketika pendapatan serta beberapa atau semua harga bervariasi sepanjang diperkenankan oleh negara. Hal itu terlihat bahwa, setiap pengukuran dari perubahan kesejahteraan individual harus sesuai dalam kegiatan yang termasuk dalam compensating variation (CV).
Lebih lanjut, fungsi utilitas tidak langsung konsumen dapat digunakan untuk mengevaluasi harga dan pendapatan pada setiap keadaan serta dapat digunakan juga untuk menghitung harapan utiliti-nya yang harus “affine” (dalam pendapatan) dengan istilah independen dari semua harga serta beban terhadap pendapatan yang independen. Pembatasan ini menyiratkan pilihan tersebut adalah homothetic. Jika semua harga adalah tidak-pasti, syarat-syarat ini adalah tidak konsisten dengan properti homogenitas dari satu fungsi utiliti tidak langsung dan karenanya, diperoleh satu hasil ketidakmungkinan/ ketidakpastian.
Ketika ada kepastian, maka compensating variation (CV) dan ekivalen variation (EV) Hicksian merupakan pengukuran yang tepat terhadap perubahan kesejahteraan individual. Oleh karena itu, ukuran surplus konsumen Hicksian dengan tepat mengidentifikasikan apakah satu perubahan harga dan pendapatan membuat seorang konsumen individual lebih baik atau lebih miskin. Di samping itu juga, dikenal Marshallian surplus konsumen yang bukan merupakan satu-satunya ukuran yang tepat dari perubahan kesejahteraan individual kecuali dengan asumsi-asumsi yang bersifat membatasi.
Penggunaan nilai pengukuran surplus konsumen yang diharapkan Hicksian atau Marshallian untuk mengevaluasi konsekuensi kesejahteraan dari perubahan harga dalam lingkungan ketidak-pastian dapat ditelusur balik pada analisa Waugh (1944), yang menunjukkan bahwa asumsi-asumsi standar tentang permintaan individu, harapan surplus konsumen Marshallian dan harapan compensating variation (CV) keduanya bersifat negatif, jika satu harga stokastik distabilkan dengan aritmatika yang berarti. Untuk individu yang kepuasan preferensi mengharapkan hipotesis utilitinya, menggunakan harapan ukuran surplus, apakah itu Hicksian atau Marshallian, merupakan pengukuran yang valid dari perubahan kesejahteraan individual dengan ketidak-pastian jika dan hanya jika mempunyai isyarat yang tepat dalam menentukan apakah harapan utilitinya naik atau turun sebagai hasil suatu perubahan dalam distribusi harga serta pendapatan secara keseluruhan dalam negara. Anderson dan Riley (1976) telah berargumentasi bahwa pengukuran surplus dapat dengan tepat ditelusuri melalui pilihan individual ketika harga stokastik distabilkan kecuali jika marginal utiliti dari pendapatan (dalam menggambarkan utiliti yang preferensinya digunakan untuk menghitung harapan utilitasnya) adalah independen dari setiap tingkat pendapatan dan nilai harganya.
Rogerson (1980) dan Turnovsky, Shalit, dan Schmitz (1980) telah mengidentifikasikan pembatasan terhadap pilihan surplus Marshallian di mana satu indikator sah dari kesejahteraan individual berubah ketika harga dan, dalam kasus (dari Rogerson), pendapatan adalah stokastik. Untuk kasus dimana hanya satu harga yang tidak-pasti, Helms (1984, 1985) telah memberikan pembatasan terhadap pilihan di mana harapan terhadap compensating variation (CV) merupakan pengukuran yang valid dari kesejahteraan individual ketika sejumlah variabel harga mengubah keduanya, yaitu setelah perubahan dalam distribusi harga tersebut tidak dibatasi dan ketika harganya stokastik. Untuk setiap kasus, yang pembatasannya tidak lagi kaku.
Pembatasan terhadap pilihan, dimana Helms (1984, 1985) telah menunjukkan bahwa masih diperlukan compensating variation (CV) sebagai ukuran konsistensi dari perubahan kesejahteraan individual lebih banyak tidak bersifat membatasi ketika satu harga stokastik tunggal distabilkan pada harga rata-rata nya bandingkan dengan kasus dimana semua distribusi dimungkinkan menjadi stokastik.

Reviu
Kajian ini mencoba untuk memberikan revieu terhadap teori pengukuran perubahan kesejahteraan consumer tunggal yang dikaitkan dengan “Hicksian Surplus Measures Individual Welfare Change When There is Price dan Income Uncertainty”. Pertama berhubungan dengan surplus konsumen (CS), sedangkan bagian kedua memfokuskan pada konsep compensation variation (CV) dan ekivalen variation (EV). Tiga ukuran tersebut sering digunakan untuk mengevaluasi implikasi kesejahteraan dari suatu perubahan kebijakan.
Konsumen Surplus
Asumsi tentang perilaku konsumen diperkenalkan dalam teori permintaan melalui spesifikasi fungsi utiliti. Pengukuran fungsi utiliti merupakan pengalaman tingkat individual terhadap kepuasan sebagai hasil konsumsi tertentu dari sekeranjang (kumpulan) komoditas. Fungsi utiliti digambarkan sebagai
u = u(q), …………………… (1)
dimana q = (qi) mempertimbangkan suatu vektor n-elemen yang unsur-unsurnya adalah tingkat konsumsi dari komoditas setiap unit waktu.
Fungsi utiliti maksimal dihadapkan kepada batasan anggaran yang ditetapkan sebagai pendapatan untuk dihabiskan (belanjakan):
p’q= m, …………………… (2)
dimana p = (pi) adalah garis vektor kolom n-elemen dari harga dan m adalah pendapatan konsumen.
Memaksimalkan fungsi utiliti, (1), tunduk kepada batasan anggaran (2) dilaksanakan melalui metoda Lagrangian seperti
L(q,λ )= u(q)λ (p’qm), …………………… (3)
dimana λ, adalah pengali Lagrangian yang menggambarkan marginal utiliti dari pendapatan. Membedakan persamaan Lagrangian, (3), yang berkenaan dengan setiap argumentasi, qi dan λ, menghasilkan kondisi syarat pertama
uq λp=0, p’qm=0, …………………… (4)
dimana uq adalah garis vektor dari turunan fungsi utiliti yang menggambarkan jumlah, qi, i = 1, …, n.
Sistem persamaan dari hasil kondisi syarat pertama pada (4) menyediakan n + 1 persamaan dalam 2n + 2 variabel: n harga, n jumlah, λ, dan pendapatan. Dengan menerapkan dalil fungsi tersebut, (4) dapat dipecahkan dengan khusus untuk q1, …, qn dan λ dalam kaitan dengan harga dan pendapatan. Persamaannya dihasilkan:
q_i= q_i (p_1,…,p_n,m) i =1,…,n …………………… (5)
λ =λ (p_1,…,p_n,m) …………………… (5a)
Menggantikan persamaan permintaan (5a) ke dalam fungsi utiliti dinyatakan dalam (1) didapat fungsi utiliti tidak langsung.
u = u[q(p,m)] = v(p,m) …………………… (6)
Persamaan (6) menetapkan level kegunaan yang dapat dicapai secara maksimum diberikan untuk sekumpulan harga dan pendapatan tertentu. Keuntungan dari mempertimbangkan masalah permintaan konsumen dalam konteks ini adalah kemudahan yang mana dapat diturunkan dari persamaan permintaan. Khususnya, Marshallian (uncompensated) fungsi permintaan untuk komoditas ke i diperoleh dengan cara membedakan fungsi utilitas tidak langsung, (6), berkenaan dengan harga dan pendapatan serta menerapkan identitas Roy:
[ ∂v(p,m)/∂ p_1 ]/[ ∂v(p,m)/∂m] = q_1 (p,m) i =1,…,n …… (7)
Fungsi permintaan Marshallian memberikan fungsi jumlah sebagai sebuah fungsi dari harga, menahan tetap pendapatan sementara mengubah tingkat utiliti.
Untuk memperoleh satu ukuran moneter dari perubahan utiliti,adalah turunan dari efek perubahan-perubahan kecil dalam harga dan pendapatan. Dengan perubahan-perubahan kecil dalam harga dan pendapatan dapat diperoleh total pembedaan dari fungsi utilitas tidak langsung, (6), dan aplikasi dari identitas Roy sebagai berikut
dv = Σ(∂v/∂p_1 )dp_1 +( ∂v/∂m)dm
= λ [dm Σq (p,m)dp_1] …………………… (8)
Menganggap persamaan λ =Mv/Mm>0 adalah tetap dan membagi kedua sisi persamaan (8) oleh λ, kita memperoleh satu ukuran moneter dari perubahan utilitas, sehingga, suatu ukuran perubahan kesejahteraan seperti.
dw = dv/ λ =dm[∑_i▒〖q_1 (p,m) dp_1].〗 …………………… (9)
Untuk perubahan secara terpisah dalam harga dan pendapatan, ukuran dari perubahan kesejahteraan, (9), dapat ditulis sebagai
∆w=∆m [∑_i▒〖q_1 (p,m) ∆p_1].〗
=∆m [∑_i▒〖∫_0^1▒q_1 (p,m) dp_1].〗 …………………… (10)
oleh Marshall, ukuran ini disebut perubahan kesejahteraan surplus konsumen (CS). Pada gambar-1, CS didefinisikan sebagai area di bawah kurva permintaan dan di atas garis harga; dalam hal ini pada gambar-1, area segi tiga p1EC.
Dua hal keunikan dari konsep CS yang muncul. Pertama, nilai integral baris (termin kedua pada persamaan [10]) tergantung atas harga dan perubahan pendapatan, misalnya, perintah dimana integrasi dilakukan. Ini menggambarkan bahwa integral baris itu bukan jalur independen.

Sebagai akibatnya, konsep CS tidak khusus. Jalur Independen dari integral baris (dan karenanya keunikannya CS) memegang hanya jika mengangap turunan qi/pj = qj/pi fungsi-fungsi permintaan adalah simetris, sehingga, kurva permintaan diganti-rugi (compensated). Kedua, marginal utiliti dari pendapatan, λ , mungkin tetap berkaitan dengan harga tetapi tidak dengan pendapatan, atau berkaitan dengan pendapatan dan harga pertama n-1. Ini menyatakan bahwa ukuran khusus dari CS dapat diperoleh dengan syarat-syarat berikut.
Jika awalnya harga tetap kemudian ada perubahan pendapatan dan harga, persamaannya (10) menjadi
CS=∆m [∑_(i=1)^n▒〖∫_0^1▒q_1 (p,m)dp_1 〗] …………………… (10a)

Gambar 2a dan 2b menunjukkan bahwa, pendapatan berubah dari m0 ke m1 pada harga p1, jumlah permintaan pada q1. Dengan cara sama, pendapatan berubah dari m1 ke m2 pada harga p2, jumlah permintaan pada q2. Area surplus konsumen (CS) digambarkan oleh p1p2ba (Gambar 2b). Keunikan ini diperoleh jika elastisitas pendapatan berhubungan dengan harga dimana perubahan adalah nol.
Hal ini menyiratkan bahwa kurva indiferensi adalah paralel secara tegak lurus.

Jika pendapatan tetap kemudian semua harga berubah, selanjutnya persamaan (10) menjadi
CS=∑_(i=1)^n▒〖∫_0^1▒q_1 (p,m)dp_1 〗 …………………… (10b)
Untuk kasus ini diilustrasikan dalam gambar 3a dan 3b. Khusus, dalam gambar tersebut (3a dan 3b) mengasumsikan bahwa harga q1 turun dari p1, ke p2, dan bahwa semua barang-barang selain dari pada q1 dianggap ke dalam qn. Hal itu ditunjukan titik 1 dan 2 (Gambar 3a) menyesuaikan dengan titik (p1, q1) dan (p2, q2) di atas kurva permintaan Marshallian q1(p1) (Gambar 3b). Area surplus konsumen (CS) dibatasi oleh p1p2ba. Sebuah pengukuran unik dari perubahan kesejahteraan yang diperoleh pada kondisi ini jika dan hanya jika pilihannya adalah homothetic. Pilihan Homothetic menghasilkan kurva permintaan dengan elastisitas pendapatan yang sama (unitary).

Pembahasan sebelumnya menyiratkan surplus konsumen (CS) itu dipertimbangkan sebagai sebuah ukuran unik adanya perubahan utiliti ketika marginal utiliti dari pendapatan adalah tetap. Hal itu merupakan konsistensi terhadap marginal utiliti dari pendapatan yang membentuk jalur independensi secara integral (terpadu berbentuk garis), sedangkan jalur independensi yang secara integral tidak menjamin secara konsisten terhadap marginal utiliti dari pendapatan.
Oleh karena asumsi yang bersifat membatasi ini, dan konsistensi dari marginal utiliti pendapatan serta pertanyaan tentang jalur independensi secara garis integral, pengukuran alternatif ini tidak cukup sehingga dilakukan secara lebih lanjut, mencakup hal compensating variation (CV) dan ekivalen variation (EV).
Ukuran Willingness-to-Pay
Sebelum mendiskusikan konsep CV dan EV, terlebih dulu akan diperkenalkan satu fungsi utiliti yang lebih sering digunakan dalam analisa permintaan. Fungsi tersebut relatif lebih dekat dengan fungsi utiliti tidak langsung dan lebih dikenal sebagai fungsi pengeluaran (biaya). Fungsi pengeluaran diperoleh dengan cara membalikkan fungsi utiliti tidak langsung, (6), dan memecahkan untuk m dalam kaitan dengan tingkat utiliti u0 serta set harga p.
Secara formal, biaya tingkat pencapaian utiliti u0 dengan harga p adalah
e(u, p) = min┬q⁡ p’ q subject to u(q) uSUPo . …………………… (11)
Fungsi pengeluaran (11), memberikan pengeluaran minimum dari pencapaian sebuah tingkat utiliti uo pada harga p.
Identitas Roy telah diterapkan di bagian sebelumnya untuk menghasilkan fungsi permintaan Marshallian (uncompensated) dari fungsi utiliti tidak langsung. Dengan cara sama, Shephard Lemma dapat diterapkan untuk menghasilkan fungsi permintaan Hicksian (compensated) dari fungsi pengeluaran. Selanjutnya, fungsi permintaan compensated akan mengikuti dari turunan fungsi pengeluaran persamaan (11) dengan pi:
(∂e(u,p))/(∂p_i )=q_i SUPbold*(u,p) i =1,…,n. …………………… (12)
Sehingga, fungsi permintaan Hicksian mengambarkan jumlah permintaan sebagai satu fungsi dari harga, dengan utiliti tetap sementara tingkat pendapatan berubah.
Compensating variation
CV didefinisikan sebagai sejumlah pendapatan yang diambil dari konsumen (baik positif atau negatif) setelah ada perubahan ekonomi untuk kembali kepada keadaan tingkat kesejahteraan awal (sebelum ada perubahan kesejahteraan). Dengan kata lain, CV adalah penyesuaian pendapatan yang diperlukan untuk memelihara konsumen pada tingkat utiliti sebelum terjadi ada perubahan terhadap harga dan pendapatan.
Pada gambar 4, awalnya konsumen berada pada titik 1 di atas kurva indiferensi u1. Jika harga satu komoditas normal, q1, diturunkan, konsumen bergerak untuk menunjuk titik 2 di atas kurva indiferensi u2. CV berhubungan dengan harga dan perubahan pendapatan diberikan oleh m2 e1. CV adalah penyesuaian pendapatan untuk membuat konsumen indeference antara mengkonsumsi keranjang awal pada titik 1 dan menghadapi harga lebih rendah tetapi mengkonsumsi keranjang pada titik 2.

Secara formal, CV untuk perubahan pada harga dan pendapatan dari (p1,m1) ke (p2,m2) dapat ditulis sebagai
CV = m2 e1
= m2 e( p2 ,u1 )
= m2m1+m1 e( p2 ,u1 )
= Δm+e( p1 ,u1 ) e( p2 ,u1 )
= Δm∫_p1^p2▒∑_i [∂e(p,uSUB1)/ ∂pi ] dpi
= Δm∫_p1^p2▒∑_iqi(p,uSUB1) dpi
Pertanyaan untuk jalur independen tidak muncul di sini karena derivatives harga silang fungsi permintaan yang compensated adalah simetris.
Jika harga komoditas normal, qi, berubah sementara semua harga dan pendapatan lain tetap, kemudian CV dalam persamaan (13) menjadi
CV = ∫_(pi^1)^(pi^2)qi (p,ui ) dp SUBi …………………… (13)
Kasus ini diilustrasikan dalam gambar-5a dan 5b untuk suatu penurunan dalam harga komoditas normal, q1. Permintaan compensated dan kurva permintaan uncompensated untuk penurunan harga dalam gambar 5b. Gambar tersebut juga menunjukkan bahwa, CV untuk kasus tertentu yang sepadan dengan area (1 + 2), sedangkan surplus konsumen sama dengan area (1 + 2 + 3).

Ekivalen Variation
Berlawanan dengan CV, ekivalen variation (EV) didefinisikan sebagai sejumlah pendapatan yang diberikan kepada konsumen (positif atau negatif) sebagai pengganti adanya perubahan ekonomi untuk membuat konsumen sama seperti sebelum adanya perubahan.
Gambar 4 mengilustrasikan EV untuk gerakan dari titik 1 ke titik 2. Sebaliknya dengan CV, EV menggunakan tingkat utiliti setelah harga dan pendapatan berubah sebagai dasar. Dengan begitu, EV untuk keadaan ini sama dengan jarak e2 ke m1 (lihat gambar 4).
EV = e2 m1
= e ( p1 ,u2 ) m1
= e ( p1 ,u2 ) m2 + m2 m1
= e ( p1 ,u2 ) e ( p2 ,u2 ) + m2 m1
= e( p1 ,u2 ) e( p2 ,u2 ) + Δm
= ∫_p1^p2▒∑_i [∂e(p,u2 )/ ∂pi ] dpi + Δm
= ∫_p1^p2▒∑_i▒q i (p,u2 ) dpi + Δm …………………… (14)
Sama dengan CV, pertanyaan jalur independen tidak muncul karena turunan harga silang dari fungsi permintaan yang compensated adalah simetris.
Untuk penurunan harga dari komoditas normal, qi, EV dalam persamaan (14) ditulis sebagai sebagai berikut
EV = ∫_p1^p2▒q i (p,u2 ) dpi …………………… (14a)
Keadaan ini diilustrasikan dalam gambar-6a dan 6b. Pada gambar-6b, EV sama dengan area (1 + 2 + 3), sedangkan CS sama dengan area (1 + 2).

Penutup
Hubungan di antara tiga konsep (CS, CV, EV) diperlihatkan dalam gambar-7 di bawah ini. Khususnya, gambar ini menunjukkan bahwa untuk kasus dari satu komoditas normal, qi, kurva permintaan uncompensated lebih datar dibandingkan kurva permintaan compensated. Gambar tersebut menunjukan bahwa jika harga satu normal qi, turun dari p1 , ke p2 , kemudian CV < CS< EV. Dengan kata lain, tiga konsep ini mempunyai tanda arah yang sama ketika terjadi perubahan dalam kesejahteraan. Sehingga, untuk keuntungan kesejahteraan, tiga ukurannya adalah positif. Kemudian, tentu saja untuk peningkatan harga, hubungannya akan menjadi EV < CS < CV. Sedangkan untuk kasus efek pendapatan sama dengan nol (0), maka tiga ukuran secara bersamaan menjadi; CV = CS = EV.

-o-

Daftar Pustaka
Boadway, Robin and Neil Bruce. Welfare Economics. Oxford: Basil Blackwell, 1984.
Chipman, John S., and James C. Moore. “Compensating Variation, Consumers Surplus, and Welfare,”American Economic Review 70 (December 1980): 939-49.
Hanemann, Michael W. “Willingness to Pay and Willingness to Accept: How Much Can They Differ,”American Economic Review 81 (June 1991): 635-47.
Hausman, Jerry A. “Exact Consumer’s Surplus and Deadweight Loss,” American Economic Review 71 (September 1981): 662-76.
Johnson, Stanley R., Zuhair A. Hassan, and Richard D. Green. Demand Systems Estimation: Methods and Applications. Ames, Iowa: The Iowa State University Press, 1984.
Just, Richard E., Darrell L. Hueth, and Andrew Schmitz. Applied Welfare Economics and Public Policy. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall, Inc., 1982.
McKenzie, George W. Measuring Economic Welfare: New Methods. London: Cambridge University Press, 1983.
Randall, Alan and Stoll, John R. “Consumer’s Surplus in Commodity Space,” American Economic Review 71 (June 1980): 449-57.
Shogren, Jason F., Shin, Seung Y., Hayes, Dermot J., and Klibenstein, James B. “Resolving Differences in Willingness to Pay and Willingness to Accept” American Economic Review 84 (March 1994): 255-70.
Silberberg, Eugene. “Duality and the Many Consumer’s Surplus,” American Economic Review 62 (December 1972): 942-51.
Van Kooten, G.C. The Economic Impacts of Consumers of Government Intervention in the Poultry and Egg Sectors: A Comparison of Alternative Welfare Measures. Agriculture Canada, Policy Branch, Ottawa, Working Paper 5/87, 1987.
Willig, Robert D. “Consumer’s Surplus Without Apology,” American Economic Review 66 (September 1976): 589-97.

Rahasia si Untung

Kita semua pasti kenal tokoh si Untung di komik Donal Bebek. Berlawanan dengan Donal yang selalu sial. Si Untung ini dikisahkan untung terus. Ada saja keberuntungan yang selalu menghampiri tokoh bebek yang di Amerika bernama asli Gladstone ini. Betapa enaknya hidup si Untung. Pemalas, tidak pernah bekerja, tapi selalu lebih untung dari Donal. Jika Untung dan Donal berjalan bersama, yang tiba-tiba menemukan sekeping uang dijalan, pastilah itu si Untung. Jika Anda juga ingin selalu beruntung seperti si Untung, dont worry, ternyata beruntung itu ada ilmunya.
Professor Richard Wiseman dari University of Hertfordshire Inggris, mencoba meneliti hal-hal yang membedakan orang2 beruntung dengan yang sial. Wiseman merekrut sekelompok orang yang merasa hidupnya selalu untung, dan sekelompok lain yang hidupnya selalu sial. Memang kesan nya seperti main-main, bagaimana mungkin keberuntungan bisa diteliti. Namun ternyata memang orang yang beruntung bertindak berbeda dengan mereka yang sial.
Misalnya, dalam salah satu penelitian the Luck Project ini, Wiseman memberikan tugas untuk menghitung berapa jumlah foto dalam koran yang dibagikan kepada dua kelompok tadi. Orang2 dari kelompok sial memerlukan waktu rata-rata 2 menit untuk menyelesaikan tugas ini. Sementara mereka dari kelompok si Untung hanya perlu beberapa detik saja! Lho kok bisa?
Ya, karena sebelumnya pada halaman ke dua Wiseman telah meletakkan tulisan yang tidak kecil berbunyi “berhenti menghitung sekarang! ada 43 gambar di koran ini”. Kelompol sial melewatkan tulisan ini ketika asyik menghitung gambar. Bahkan, lebih iseng lagi, di tengah2 koran, Wiseman menaruh pesan lain yang bunyinya: “berhenti menghitung sekarang dan bilang ke peneliti Anda menemukan ini, dan menangkan $250!” Lagi-lagi kelompok sial melewatkan pesan tadi! Memang benar2 sial.
Singkatnya, dari penelitian yang diklaimnya “scientific” ini, Wiseman menemukan 4 faktor yang membedakan mereka yang beruntung dari yang sial:
1. Sikap terhadap peluang.
Orang beruntung ternyata memang lebih terbuka terhadap peluang. Mereka lebih peka terhadap adanya peluang, pandai menciptakan peluang, dan bertindak ketika peluang datang. Bagaimana hal ini dimungkinkan?
Ternyata orang-orang yg beruntung memiliki sikap yang lebih rileks dan terbuka terhadap pengalaman-pengalam an baru. Mereka lebih terbuka terhadap interaksi dengan orang-orang yang baru dikenal, dan menciptakan jaringan-jaringan sosial baru. Orang yang sial lebih tegang sehingga tertutup terhadap kemungkinan- kemungkinan baru.
Sebagai contoh, ketika Barnett Helzberg seorang pemilik toko permata di New York hendak menjual toko permata nya, tanpa disengaja sewaktu berjalan di depan Plaza Hotel, dia mendengar seorang wanita memanggil pria di sebelahnya: “Mr. Buffet!” Hanya kejadian sekilas yang mungkin akan dilewatkan kebanyakan orang yang kurang beruntung. Tapi Helzber berpikir lain. Ia berpikir jika pria di sebelahnya ternyata adalah Warren Buffet, salah seorang investor terbesar di Amerika, maka dia berpeluang menawarkan jaringan toko permata nya. Maka Helzberg segera menyapa pria di sebelahnya, dan betul ternyata dia adalah Warren Buffet. Perkenalan pun terjadi dan Helzberg yang sebelumnya sama sekali tidak mengenal Warren Buffet, berhasil menawarkan bisnisnya secara langsung kepada Buffet, face to face. Setahun kemudian Buffet setuju membeli jaringan toko permata milik Helzberg. Betul-betul beruntung.
2. Menggunakan intuisi dalam membuat keputusan.
Orang yang beruntung ternyata lebih mengandalkan intuisi daripada logika. Keputusan-keputusan penting yang dilakukan oleh orang beruntung ternyata sebagian besar dilakukan atas dasar bisikan “hati nurani” (intuisi) daripada hasil otak-atik angka yang canggih. Angka-angka akan sangat membantu, tapi final decision umumnya dari “gut feeling”. Yang barangkali sulit bagi orang yang sial adalah, bisikan hati nurani tadi akan sulit kita dengar jika otak kita pusing dengan penalaran yang tak berkesudahan. Makanya orang beruntung umumnya memiliki metoda untuk mempertajam intuisi mereka, misalnya melalui meditasi yang teratur. Pada kondisi mental yang tenang, dan pikiran yang jernih, intuisi akan lebih mudah diakses. Dan makin sering digunakan, intuisi kita juga akan semakin tajam.
Banyak teman saya yang bertanya, “mendengarkan intuisi” itu bagaimana? Apakah tiba2 ada suara yang terdengar menyuruh kita melakukan sesuatu? Wah, kalau pengalaman saya tidak seperti itu. Malah kalau tiba2 mendengar suara yg tidak ketahuan sumbernya, bisa2 saya jatuh pingsan.
Karena ini subyektif, mungkin saja ada orang yang beneran denger suara.
Tapi kalau pengalaman saya, sesungguhnya intuisi itu sering muncul dalam berbagai bentuk, misalnya:
– Isyarat dari badan. Anda pasti sering mengalami. “Gue kok tiba2 deg-deg an ya, mau dapet rejeki kali”, semacam itu. Badan kita sesungguhnya sering memberi isyarat2 tertentu yang harus Anda maknakan. Misalnya Anda kok tiba2 meriang kalau mau dapet deal gede, ya diwaspadai saja kalau tiba2 meriang lagi.
– Isyarat dari perasaan. Tiba-tiba saja Anda merasakan sesuatu yang lain ketika sedang melihat atau melakukan sesuatu. Ini yang pernah saya alami. Contohnya, waktu saya masih kuliah, saya suka merasa tiba-tiba excited setiap kali melintasi kantor perusahaan tertentu. Beberapa tahun kemudian saya ternyata bekerja di kantor tersebut. Ini masih terjadi untuk beberapa hal lain.
3. Selalu berharap kebaikan akan datang.
Orang yang beruntung ternyata selalu ge-er terhadap kehidupan. Selalu berprasangka baik bahwa kebaikan akan datang kepadanya. Dengan sikap mental yang demikian, mereka lebih tahan terhadap ujian yang menimpa mereka, dan akan lebih positif dalam berinteraksi dengan orang lain. Coba saja Anda lakukan tes sendiri secara sederhana, tanya orang sukses yang Anda kenal, bagaimana prospek bisnis kedepan. Pasti mereka akan menceritakan optimisme dan harapan.
4. Mengubah hal yang buruk menjadi baik.
Orang-orang beruntung sangat pandai menghadapi situasi buruk dan merubahnya menjadi kebaikan. Bagi mereka setiap situasi selalu ada sisi baiknya. Dalam salah satu tes nya Prof Wiseman meminta peserta untuk membayangkan sedang pergi ke bank dan tiba-tiba bank tersebut diserbu kawanan perampok bersenjata. Dan peserta diminta mengutarakan reaksi mereka. Reaksi orang dari kelompok sial umunya adalah: “wah sial bener ada di tengah2 perampokan begitu”. Sementara reaksi orang beruntung, misalnya adalah: “untung saya ada disana, saya bisa menuliskan pengalaman saya untuk media dan dapet duit”. Apapun situasinya orang yg beruntung pokoknya untung terus.
Mereka dengan cepat mampu beradaptasi dengan situasi buruk dan merubahnya menjadi keberuntungan.
Sekolah Keberuntungan.
Bagi mereka yang kurang beruntung, Prof Wiseman bahkan membuka Luck School.
Latihan yang diberikan Wiseman untuk orang2 semacam itu adalah dengan membuat “Luck Diary”, buku harian keberuntungan. Setiap hari, peserta harus mencatat hal-hal positif atau keberuntungan yang terjadi.
Mereka dilarang keras menuliskan kesialan mereka. Awalnya mungkin sulit, tapi begitu mereka bisa menuliskan satu keberuntungan, besok-besoknya akan semakin mudah dan semakin banyak keberuntungan yg mereka tuliskan.
Dan ketika mereka melihat beberapa hari kebelakang Lucky Diary mereka, mereka semakin sadar betapa beruntungnya mereka. Dan sesuai prinsip “law of attraction”, semakin mereka memikirkan betapa mereka beruntung, maka semakin banyak lagi lucky events yang datang pada hidup mereka.
Jadi, sesederhana itu rahasia si Untung. Ternyata semua orang juga bisa beruntung. Termasuk kita semua.
Siap mulai menjadi si Untung?

Pendahuluan

Seorang anggota Komisi IX DPR-RI Hadimulyono menyatakan bahwa, kemauan politik untuk memprioritaskan pembangunan sumber daya manusia (SDM) belum tercermin dalam RAPBN 1997-1998. Sekalipun anggaran pendidikan termasuk bidang yang mendapatkan prioritas anggaran dan mengalami kenaikan cukup besar, namun anggaran negara tetap terkesan memberikan titik berat pada pembangunan infrastruktur daripada pembangunan manusia. Sebab pengeluaran pendidikan Indonesia saat ini masih baru mencapai sekitar 3,2 persen dari jumlah total Produk Domestik Bruto (PDB) (Kompas, 22/01/97. Hal inilah yang menjadikan kerisauan beliau apabila dibandingkan dengan negara tetangga, misalnya Malaysia 5,3 persen dan Singapura 4,8 persen dari PDB. Namun demikian kalau kita perhatikan, PDB negara Indonesia semakin lama mengalami peningkatan yang cukup tajam. Pada tahun 1960, PDB mulai dari Rp. 390,2 milyar (harga dasar tahun 1960) menjadi Rp. 320.035,6 milyar pada tahun 1994 (harga dasar tahun 1993). Sedangkan PDB perkapita mulai dari Rp. 4.142,3 pada tahun 1960 menjadi Rp. 1.979.034,1 pada tahun 1994, dengan kenaikan rata-rata sebesar 5,87 persen per tahun.

Laju pertumbuhan pendapatan nasional, baik dalam bentuk PDB maupun Produk Nasional Bruto (PNB), yang lebih besar daripada laju pertambahan jumlah penduduk akan mengakibatkan kenaikan PDB perkapita atau PNB secara rata-rata. Maka dalam hal ini seiring dengan terjadinya petumbuhan PDB perkapita atau PNB perkapita dalam jangka panjang akan disertai dengan terjadinya perubahan sruktural dalam perekonomian, dimana Chenery dan Syrquin (1975) yang diungkap lagi oleh Anwar Arysad (1996) mengatakan bahwa dengan adanya kenaikan tersebut, akan terjadi empat proses kejadian, yaitu: (1) Proses Akumulasi (Accumulation process), (2) Proses Alokasi (Resources Allocation proces), (3) Proses Demografi (Demographic process), dan (4) Proses Distribusi (Distributional process).

Dalam kesempatan ini, penulis akan menjelaskan sedikit bagaimana berlangsungnya proses akumulasi dari terjadinya peningkatan pendapatan nasional. Karena menurut hemat penulis, perubahan struktur ekonomi yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan pendapatan nasional dapat dilihat dari tingkat pembangunan melalui proses akumulasi, dimana akan terjadi perubahan yang salah satunya dapat dilihat dalam bidang pendidikan dengan indikatornya adalah jumlah pengeluaran atau biaya pendidikan nasional –yang kemudian disebut sebagai pembangunan SDM.

Proses Akumulasi

Dengan terjadinya pertumbuhan pendapatan masyarakat sebagai hasil pembangunan nasional, maka ada bagian dari pendapatan yang dialokasikan bukan untuk tujuan konsumsi akhir melainkan digunakan sebagai investasi. Dengan kata lain, proses akumulasi dapat didefinisikan sebagai proses penggunaaan atau pemanfaatan sumber daya dan dana untuk meningkatkan kapasitas produksi masyarakat di masa yang akan datang dalam suatu perekonomian. Artinya, dalam proses akumulasi, terdapat investasi fisik (Physical Investment) dan investasi kemanusian (Human Investment).

Dalam proses akumulasi tersebut, dapat terlihat adanya tiga hal, yaitu: (1) perubahan struktur tabungan dan investasi, yang akan berpengaruh terhadap kemampuan menabung dan investasi, (2) perubahan struktur penerimaan negara yang berasal dari pajak, yang berpengaruh terhadap kemampuan penerimaan pemerintah, dan (3) perubahan pengeluaran pemerintah yang ditujukan untuk membiayai sektor pendidikan yang akan mempengaruhi tingkat pendidikan penduduk.

Dua hal yang pertama merupakan indikator dari peningkatan kapasitas produksi dari sumber-sumber daya berbentuk piranti keras (physical investment), sedangkan yang terakhir merupakan indikator dari peningkatan kapasitas produksi dari sumber daya dalam bentuk piranti lunak, dalam hal ini menyangkut kemampuan manusianya (human investment).


Tingkat Tabungan

Pola perubahan struktur tabungan masyarakat yang mengiringi peningkatan pendapatan, telah banyak dijelaskan oleh para ahli, seperti Keynes, Lewis, Kuznets dan Houthaker. Tabungan akan berhubungan positif dengan kenaikan pendapatan dengan pola yang terbentuk adalah bahwa nisbah rata-rata konsumsi terhadap pendapatan meningkat, sebaliknya nisbah rata-rata konsumsi terhadap pendapatan akan menurun jika pendapatan nasional semakin besar secara riel. Seperti yang telah dijelaskan Ernest Engel dalam Hukum Engel (lihat Michael P. Todaro, 1994), untuk masyarakat yang telah cukup memenuhi kebutuhan pokoknya, pada saat terjadinya kenaikan pendapatan bagian dari pendapatan yang digunakan untuk tujuan konsumsi akan lebih kecil daripada kenaikan pendapatan itu sendiri. Dalam arti semakin makmur suatu masyarakat, apabila kondisi maksimal dari kebutuhan pokoknya telah terpenuhi, maka bagian dari pendapatan yang ditabung akan semakin meningkat. Ini merupakan efek langsung dari peningkatan pendapatan nasional ditinjau dari sisi rumah tangga.

Disamping itu, efek tidak langsung terjadi pada sektor produksi, dimana dengan adanya kenaikan pendapatan masyarakat, maka pola produksi yang mengikuti arus permintaan akan mengalami pergeseran komposisi. Pergeseran komposisi ini akan terlihat dari komposisi barang yang diproduksi, perdagangan, lokasi dan berbagai komposisi struktural lainnya. Pergeseran semacam ini memungkinkan efisiensi yang semakin meningkat, sehingga pada gilirannya kemungkian untuk melakukan re-investasi dari pendapatan menjadi lebih besar.

Chenery dan Syrquin telah membuktikan validitas dari teori ini. Hasil penelitian mereka (lihat tabel-1), menunjukkan bahwa dengan meningkatnya pendapatan perkapita masyarakat, maka tingkat tabungan masyarakat dalam bentuk proporsi terhadap Pendapatan Nasional akan mengalami kenaikan yang cukup besar, yaitu dari 13,5 persen untuk masyarakat dengan pendapatan perkapita US $ 100 menjadi 23,3 persen pada pendapatan perkapita masyarakat sebesar US $ 1.000. Dengan asumsi, bahwa pergeseran pendapatan perkapita dari US $ 100 menjadi US $ 1.000 adalah menunjukkan pendugaan konkrit dari adanya peningkatan hasil-hasil pembangunan.


Tabel : 1

Struktur Ekonomi Pada Berbagai Tingkat Pembangunan

Pada Proses Akumulasi




Nilai Tiap Faktor Pada Berbagai Tingkat Pembangunan



$ 100

$ 200

$ 300

$ 400

$ 500

$ 800

$ 1000

A.

Pembentukan Modal








1

Tabungan

0,135

0,171

0,190

0,202

0,210

0,226

0,233

2

Pembentukan Modal

0,158

0,188

0,203

0,213

0,220

0,234

0,240

3

Aliran Modal Masuk

0,023

0,016

0,012

0,010

0,009

0,006

0,006

B.

Penerimaan Pemerintah








1

Pendapatan pemerintah

0,153

0,181

0,203

0,202

0,219

0,234

0,287

2

Pendapatan dari pajak

0,129

0,153

0,173

0,189

0,203

0,236

0,154

C.

Pendidikan








1

Pengeluaran pendidikan

0,033

0,033

0,034

0,035

0,037

0,041

0,043

2

Prosentase anak-anak yang bersekolah

0,375

0,549

0,637

0,694

0,735

0,810

0,842











Sumber : Hollis B. Chenery and M. Syrquin, Patterns of Development 1950-1970,

published by Oxford University Press for the World Bank. London, 1975. (dikutip dari catatan Arsyad Anwar, 1996)

Hal lain yang memperkuat hasil penelitian tersebut, adalah pembentukan modal domestik bruto juga meningkat dari 15.8 persen menjadi 24,0 persen. Hal ini wajar, sebab dana pembentuk modal domestik bruto pada dasarnya berasal dari tabungan masyarakat. Selain itu, peranan modal yang berasal dari luar negeri terhadap pembentukan modal domestik menurun dari 2,3 persen saat pendapatan perkapita US $ 100 menjadi 0,6 persen ketika pedapatan perkapita US $ 1.000.

Penerimaan Pemerintah

Pada dasarnya bentuk penerimaan pemerintah dapat dibedakan menjadi pajak langsung (direct tax), pajak tidak langsung (indirect tax) dan bukan pajak (non tax). Dengan adanya kenaikan PDB perkapita, maka akan semakin banyak wajib pajak dan semakin banyak pula orang yang dikenai pajak langsung dengan persentase pengenaan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, maka elastisitas pajak langsung terhadap perubahan pendapatan adalah lebih besar dari satu, dalam arti kenaikan sebesar satu persen (1%) pada PDB perkapita, akan meningkatkan kenaikan pajak langsung sebesar lebih dari satu persen. Di samping itu, juga akan mengakibatkan kenaikan permintaan atas barang dan jasa. Proses ini selanjutnya akan diikuti dengan semakin besarnya unit usaha dalam perekonomian yang menjurus kepada timbulnya spesialisasi.

Spesialisasi akan mengakibatkan unit usaha menghasilkan barang dan jasa, bukan hanya untuk dirinya, melainkan untuk melayani pihak lain dalam jumlah yang lebih banyak dan besar. Pada gilirannya, proses ini akan mengakibatkan peningkatan volume perdagangan, dimana pajak tidak langsung itu dipengaruhi oleh volume perdagangan. Dengan meluasnya serta meningkatnya pedagangan, maka pajak tidak langsung pun akan meningkat. Kemudian meluasnya dan meningkatnya volume perdagangan memerlukan berbagai fasilitas umum atau infrastruktur yang pada umumnya disediakan oleh pemerintah dalam berbagai bentuk misalnya; jalan-jalan, pelabuhan-pelabuhan, sekolah-sekolah dan lain sebagainya.

Namun demikian, terhadap penyediaan fasilitas umum itu, pemerintah memetik bayaran. Peningkatan volume perdagangan mengakibatkan meningkatnya penggunaan fasilitas-fasilitas umum dan berarti pula meningkatnya penerimaan pemerintah dalam bentuk bukan pajak. Hasil penelitian Chenery dan Syrquin (tabel-1), menunjukkan bahwa dengan meningkatnya pendapatan perkapita masyarakat, maka persentase penerimaan pemerintah (secara keseluruhannya ) naik dari 15,3% menjadi 28,7% pada masing-masing pendapatan perkapita US $ 100 dan US $ 1.000. Sementara untuk penerimaan dari pajak, naik dari 12,9% pada pendapatan perkapita US $ 100 menjadi 25,4% pada pendapatan perkapita US $ 1.000.

Hasil penelitian mereka ini belum sampai pada pembuktian mengenai perubahan struktur pajak. Argumen yang diberikan adalah bahwa perubahan struktur pajak tersebut lebih merupakan refleksi komitmen politik, yaitu tergantung apakah pemerintah telah mempunyai cukup kekuatan untuk melakukan pemungutan secara paksa, untuk jenis-jenis pajak langsung. Jelaslah bahwa, melalui proses peningkatan PDB perkapita akan meningkatkan penerimaan negara yang lebih besar dari pada peningkatan pendapatan perkapita itu sendiri.

Pengeluaran Pendidikan dan Bukti Empiris

Perkembangan pengeluaran pemerintah atau biaya untuk bidang pendidikan yang mengiringi peningkatan PDB perkapita, adalah sejalan dengan kemampuan anggaran pemerintah. Tuntutan masyarakat untuk mengenyam atau mencapai pendidikan yang lebih tinggi dan berkualitas, menyebabkan kebutuhan investasi di bidang pendidikan semakin besar. Pemerintah yang dalam hal ini sebagai pemikul misi pembangunan, sangat diharapkan untuk memenuhi tuntutan tersebut.

Hal seperti ini, dapat dijelaskan melalui dua sisi yaitu; dari sisi permintaan (demand) dan dari sisi penawaran (supply). Pertama, permintaan yang tinggi terhadap pendidikan adalah merupakan derived demand dari peningkatan upah di sektor modern. Kelompok masyarakat yang terdidik (well educated), lebih memiliki kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan dengan upah yang lebih tinggi. Hal ini diakibatkan adanya peningkatan akan kebutuhan buruh yang terampil semakin tinggi. Bagi masyarakat secara keseluruhan, ini berarti bahwa dengan semakin bertumbuhnya perekonomian, expected private benefit untuk pendidikan semakin tinggi pula, inilah yang merupakan peubah dari besarnya permintaan masyarakat terhadap pendidikan.

Dari sisi penawaran, pada kondisi tahap awal pembangunan besarnya daya tampung murid di sekolah lebih tergantung pada kemampuan anggaran pemerintah, namun demikian yang lebih penting lagi adalah ditentukan oleh sejauh mana kemauan politik (political will) pemerintah dalam membangun bidang pendidikan. Sementara itu, komitmen untuk memenuhi permintaan pendidikan yang semakin lama semakin tinggi, ditunjukkan dengan besarnya pengeluaran di bidang pendidikan (lihat tabel-2). Akan tetapi masih ada yang mengkhawatirkan, yaitu dalam hal campur tangan pemerintah yang akan mengakibatkan private cost of education cenderung menjadi lebih rendah, sedangkan permintaan riel terhadap pendidikan lebih ditentukan oleh besar-kecilnya perbedaan antara expected private benefit pendidikan dan cost of education. Dimana semakin besar perbedaan antara expected private benefit pendidikan dan cost of education tersebut, maka permintaan terhadap pendidikan akan semakin tinggi.

Tabel : 2

Perkembangan Anggaran Rutin dan Pembangunan Pendidikan (Th 1989/90–1993/94)

(dalam ribuan Rp)

Tahun Anggaran

Rutin

%

Pembangunan

%

Jumlah

1989/90

% kenaikan

1.220.894.546

18,07

82,98

250.479.600

158,63

17,02

1.471.374.146

42,00

1990/91

% kenaikan

1.441.497.774

14,44

68,99

647.821.300

48,35

31,01

2.89.319.074

24,96

1991/92

% kenaikan

1.649.709.308

15,67

63,19

961.054.100

20,95

36,81

2.610.763.408

17,61

1992/93

% kenaikan

1.908.235.200

20,25

62,15

1.162.364.200

15,68

37,85

3.070.599.400

18,52

1993/94

% kenaikan

2.294.724.000

35,64

63,05

1.344.570.600

16,09

36,95

3.639.294.600

28,42

1994/95

3.112.751.000

66,60

1.560.921.000

33.40

4.673.672.000

Sumber : Indonesia Educational Statistics in Brief 1993/1994, MOEC, 1995 dan 1996

Berdasarkan tabel di atas, dapat dikatakan bahwa perkembangan anggaran pendidikan tahun 1989/1990 sampai tahun 1993/1994 mengalami kenaikan yang cukup berarti, dengan kenaikan rata-rata per tahun sebesar 25,41 persen. Artinya, pemerintah sungguh-sungguh mempunyai niat untuk meningkatkan kemampuan anggaran pembangunan di bidang sumber daya manusia.

Sementara itu, untuk melihat besarnya proporsi biaya pengeluaran pendidikan dengan besarnya PDB dan PDB perkapita dapat dilihat pada tabel-3 berikut ini. Keadaan tersebut menggambarkan bahwa, PDB tahun 1989 sebesar Rp. 107.436.600 juta (harga dasar 1983) dengan pendapatan perkapitanya sebesar Rp. 956.817,4 (setara kurang lebih =US $ 500), pemerintah baru mempunyai anggaran pengeluaran pendidikan sebesar 1,37 presen. Kemudian, pada tahun 1993 PDB sebesar Rp. 139.707.100 juta dengan pendapatan perkapitanya Rp. 1.609.997,4 (+/- =US $ 800) menjadi 2,6 persen. Dimana, secara proporsional anggaran untuk pengeluaran pendidikan mulai tahun 1989-1993 mengalami kenaikan yang berarti, meskipun secara riel (dibandingkan dengan harga dasar 1993) justru mengalami penurunan.

Tabel : 3

Prosentase Anggaran Pendidikan dengan PDB dan PDB Perkapita (Th 1990-19994)

TAHUN

Pengeluaran Pendidikan

(ribu-an Rp.)

PDB

(juta-an Rp.)

Persentase %

(kolom 2:3)

PDB Perkapita

(Rupiah)

1

2

3

4

5

1989

1.471.374.146

107.436.600

1,37

956.817,4

1990

2.089.319.074

115.217.300

1,81

1.097.812,2

1991

2.610.763.408

123.225.200

2,12

1.253.970,6

1992

3.070.599.400

131.134.800

2,34

1.408.656,8

1993

3.639.294.600

139.707.100

2,60

1.609.997,4

1993 *)

3.639.294.600

329.775.900

1,10

1.757.970,4

1994 *)

4.673.672.000

353.973.200

1,32

1.979.034,1

Catatan : 1989-1993, berdasarkan harga dasar tahun 1983

*) 1993-1994, berdasarkan harga dasar tahun 1993

Sumber : Indonesia Educational Statistics in Brief 1994/1995, MOEC, 1996

Biro Pusat Statistik, 1995.

Kembali pada pokok masalah ‘kerisauan’ di atas bahwa, jumlah pengeluaran pendidikan kita masih relatif rendah (3,2 persen tahun 1997) dibanding dengan negara-negara tetangga Asean, secara riel ada benarnya, jikalau hanya dilihat dari besarnya pengeluaran pemerintah dibanding dengan PDB. Sebab, dengan tingkat pendapatan perkapita pada tahun 1994 saja, sebesar Rp. 1.979.034,1 kalau dibandingkan dengan hasil penelitian Chenery dan Syrquin (kurang lebih =US $ 800), artinya prosentase besarnya pengeluaran pendidikan seharusnya telah mencapai 4,1% (tabel-1). Maka, pada tahun anggaran 1997/1998 dengan pendapatan perkapita diatas US $ 1.000 (Bappenas, tahun 1996 sebesar US $ 1.053, lihat Ginandjar Kartasamita, 1996), maka besarnya biaya pengeluaran pendidikan seharusnya telah mencapai 4,3 persen atau bahkan lebih.

Namun, penelitiannya Chenery dan Syrquin membuktikan lain, bahwa dengan meningkatnya pendapatan perkapita, pengeluaran pemerintah untuk pendidikan hanya meningkat sebesar 1% saja, dari 3,3 % menjadi 4,3% (masing-masing untuk pendapatan perkapita US $ 100 dan US $ 1.000) terhadap PDB. Argumen yang dikemukakan atas hasil tersebut, seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa, besarnya pengeluaran pemerintah dibidang pendidikan pada dasarnya lebih bergantung pada komitmen politik. Diduga bahwa kemungkinan rendahnya angka yang didapat, karena menyurutnya komitmen yang diharapkan, setelah terjadi peningkatan pendapatan nasional. Hal ini bisa dimengerti, oleh karena dengan semakin meningkatnya pendapatan masyarakat –yang mengiringi peningkatan pendapatan nasional tersebut– kemampuan pihak swasta untuk turut serta dalam pengembangan (baca: bisnis) bidang pendidikan juga semakin meningkat pula.

Dengan masuknya pihak swasta yang mendukung sebagian pembiayaan bidang pendidikan, maka penyediaan sarana dan prasarana pendidikan semakin banyak. Dari sini, tentu saja hal tersebut akan mengembalikan besarnya cost of education pada proporsi yang semula dan sebagai dampaknya permintaan pendidikan tidak sebesar yang dibayangkan. Disatu pihak pemerintah sudah tidak begitu besar dan di lain pihak peranan swasta sudah dapat diandalkan, maka pengeluaran pemerintah untuk bidang pendidikan pada titik tertentu akan menurun kembali, setelah sebelumnya mengalami kenaikan yang cukup tinggi diawal pembangunannya.


Sementara itu, dengan tersedianya sarana dan prasarana yang semakin lengkap disamping adanya ketentuan batas minimal pendidikan yang ditamatkan (Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun), mengakibatkan secara berangsur-angsur terjadi perbaikan dan peningkatan daya tampung fasilitas penidikan yang pada gilirannya akan terefleksi pada peningkatan secara tajam pada nisbah partisipasi sekolah (School Enrollment Ratio). Diperlihatkan oleh Chenery dan Syrquin bahwa, terjadi peningkatan yang sangat tajam yaitu dari 37,5 % menjadi 84,2%. Sedangkan untuk data Indonesia pada kondisi lima tahun terakhir dapat dilihat dalam tabel-4 berikut ini.

Tabel : 4

Perkembangan Persentase Murid/Mahasiswa Terhadap Penduduk Menurut Jenis Sekolah

Tahun Ajaran : 1989/1990–1993/1994

Jenis Sekolah

% Murid terhadap Penduduk


1989/90

1990/91

1991/92

1992/93

1993/94

1994/95

Tingkat SD

110,30

106,59

107,71

109,92

110,78

117,74

Tingkat SLTP

54,89

51,49

50,13

51,79

53,86

57,78

Tingkat SM

37,29

34,97

35,40

36,03

33,87

35,07

Perguruan Tinggi

10,32

10,92

11,46

11,97

14,23

16,73

Jumlah

62,54

61,54

60,64

61,75

62,59

63,91

Sumber : Indonesia Educational Statistics in Brief 1993/1994, MOEC, 1995 (hal.32-33)

Indonesia Educational Statistics in Brief 1994/1995, MOEC, 1996 (hal24-25)

Pada tingkat sekolah dasar, School Enrollment Ratio (SER) menunjukkan angka yang semakin naik dari tahun ke tahun, bahkan di atas 100%. Salah satu sebabnya adalah pelaksanaan program wajib belajar 6 tahun sudah dirintis sejak tahun 1976. Disamping adanya program kejar paket A, dimana peserta didiknya termasuk penduduk diluar usia 7-12 tahun dimasukkan kategori tingkat SD. Sedangkan tingkat SLTP juga menunjukkan kenaikan, walaupun pada tahun 1994/95, baru mencapai 57,78% saja. Hal ini, karena pemerintah sementara ini masih melaksanakan program batas minimal pendidikan yang harus ditamatkan sebatas tingkat SLTP (Wajar Dikdas 9 Tahun), yang baru dicanangkan pada tahun 1994.

Secara keseluruhan jenis sekolah, tingkat SER baru mencapai 63,91% pada tahun ajaran 1994/1995, dimana pada tahun tersebut pencapaian tingkat pendapatan perkapita diperkirakan sebesar US $ 800. Dengan tingkat pendapatan perkapita tersebut seharusnya telah mencapai tingkat SER 81,0%. Maka, untuk tingkat pendapatan perkapita diatas US $ 1.000, seharusnya sudah melampui tingkat SER sebesar 84,2% (lihat tabel-1). Dikatakan oleh Azariadis dan Drazen, yang dikutip oleh Umar Juoro (1996) bahwa, tidak ada negara yang mengalami pertumbuhan ekonomi dengan cepat tanpa tingkat awal modal manusia yang relatif tinggi terhadap PDB. Sebab, justru pertumbuhan modal manusia (human capital) itu yang merupakan residual dalam perhitungan fungsi produksi.

Penutup

Tingkat SER, belumlah menunjukkan angka yang riel tentang jumlah siswa yang benar-benar bersekolah. Sebab di daerah pedesaan, seringkali siswa tidak hadir di kelas waktu kegiatan panen tiba. Pada waktu tersebut masih banyak peserta didik membantu kegiatan orang tua sebagai tenaga kerja keluarga. Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk membantu meningkatkan perekonomian keluarga. Jadi, untuk melihat tingkat SER yang lebih akurat adalah menghitung jumlah murid yang hadir di kelas (attendance) terhadap jumlah penduduk pada usia tingkat sekolah tertentu. Sebab SER tidak menghitung berapa jumlah peserta didik yang tidak hadir dan siswa putus sekolah pada tahun berikutnya. Jadi, prosentase jumlah murid yang hadir (attendance) terhadap jumlah penduduk pada usia tingkat sekolah tertentu, akan menunjukkan angka lebih kecil dibanding dengan angka SER seperti tersebut di atas, namun lebih mencerminkan keadaan yang senyatanya.

Sewajarnya, pemerintah masih harus meningkatkan biaya anggaran untuk pengeluaran pendidikan secara terus-menerus. Dalam arti anggaran untuk membangun dan mengembangkan kegiatan pengembangan sumber daya manusia ditingkatkan secara riel, misalnya tidak hanya seperti yang sudah dilakukan yaitu; pembangunan fasilitas sarana dan prasarana kegiatan proses belajar dan mengajar untuk meningkatkan daya tampung serta subsidi uang sekolah (SPP) saja. Sebab kalau diamati beban yang paling besar bagi orang tua siswa khususnya di daerah pedesaan, justru pada pelaksanaan proses kegiatan belajar seperti; pembelian buku-buku, biaya transportasi, biaya akomodasi dan pembuatan seragam sekolah.

Selanjutnya, pemerintah terus diharapkan dapat meningkatkan program Wajib Belajar pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Walaupun konsekuensinya, pemerintah akan menanggung beban yang semakin berat, dalam arti beban biaya pengeluaran pendidikan untuk kegiatan proses belajar mengajar tersebut. Namun demikian, dengan adanya peningkatan PDB nasional dan pendapatan perkapita penduduk yang semakin tinggi, maka pemerintah secara bertahap akan dapat terus meningkatkan anggaran untuk pengeluaran pendidikan sebagai upaya implementasi dari pembangunan nasional di bidang sumber daya manusia.

Kemudian terakhir adalah pelaksanaan salah satu strategi pokok pembangunan pendidikan yaitu, pemerataan dalam memperoleh kesempatan belajar di tingkat yang lebih tinggi semakin diperluas. Disamping itu, yang tidak kalah pentingnya adalah mekanisme distribusi perolehannya harus diperuntukkan kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Dengan pendidikan yang lebih tinggi, diasumsikan seseorang akan mempunyai penghasilan lebih besar daripada yang tidak menikmati pendidikan atau hanya berpendidikan rendah, yang pada gilirannya secara beriringan dapat meningkatkan pendapatan perkapita. (tiok)


RUJUKAN

———–, (1995), The Education Development in Indonesia Towards The Take Off Era, Ministry of Education and Culture, Jakarta.

———–,(1995 dan 1996), Indonesia Educational Statistics in Brief 1993/1994 and 1994/1995, Ministry of Education and Culture, Jakarta.

———–,1995, Biro Pusat Statistik. Jakarta.

Anwar Arsyad., Prof., Dr., (1996), Catatan Mata Kuliah Perekonomian Indonesia pada Program MPKP, Fakultas Ekonomi-Universitas Indonesia, Jakarta.

Basri, Faisal., SE., MA., (1995), Perekonomian Indonesia Menjelang Abad XXI, Distorsi, Peluang dan Kendala, Erlangga, Jakarta.

Juoro, Umar., (1996), Pembangunan Bertumpu pada Modal Manusia dan Teknologi dalam Pembaruan dan Pemberdayaan (Permasalahan, Kritik dan Gagasan menuju Indoensia Masa Depan), (hal. 290-303), Ikatan alumni ITB, Jakarta.

Todaro., Michael. P., (1994), Pembangunan Ekonomi Di Dunia Ketiga (terjemahan), LP3ES, Jakarta.

Everybody can success in his or her life. If they are fully effort to do something. Besides, they should do discipline and well. In term of, they could manage of time as well, especially to do in his or her carrier.

In this case, generally, people have know if someone success when he or she became popular. People did not aware if he or she already doing for along ago. For instance, Boris Becker when he became a winner in Wimbledon for playing tennis in 1994. Everybody had known if he is good player tennis at that moment. Nevertheless, people did not know if he starts for playing tennis since 6 years old. Moreover, his success in his carrier not only does well but also take exercise 6 hours everyday.

Next example, Steve Wonder is a success singer. Although, he is a blind man. Everyday, he always exercises playing piano. Someday, he made a song with the title “I Just Call to Say I Love You,” and became a celebrities and popular in the world. In the other word, even someone has handicap, but he did with effort continuously.

In my opinion, success is not the end of life. Yet, success is beginning for life. Therefore, everybody cans success in his or her life if always discipline and much effort for doing everything in carrier. So, if someone always doing with effort and never stop, that became getting a good results.

“No pain no gain”